Selasa, 01 Februari 2011

Goresan Cinta Yasmin Part 2


GORESAN CINTA YASMIN
Oleh. Yunanti Tri Wiranti


Memasuki tahun kedua Yasmin sebagai mahasiswa. Saat ini dia mendapat amanah di Kelompok Kerohanian Islam tingkat universitas di bidang jurnalistik dan di bidang yang sama di lembaga ekstrakampus yang kini dia ikuti. Materi-materi tulisannya pun kini berbeda bahkan jauh berbeda dengan apa yang dia tulis sewaktu berada di Lentera dulu. Yasmin merasa pengetahuannya tentang khasanah keislaman masih minim, sehingga demi menghasilkan tulisan yang berkualitas dia banyak membaca dan belajar serta orang-orang disekitarnya kini banyak sekali yang membantu, memperhatikan dan mendukung Yasmin untuk menjadikannya jauh lebih baik lagi. Suasana dalam bekerjanya pun sungguh berbeda, terutama pola interaksi sesama rekan kerja, hal ini sama sekali tidak menghambat produktifitas serta kualitas hasil karyanya. Adapun penggalan tulisan perdananya yaitu

Apa yang aku rasa, aku lihat, aku dengar, aku fikir, dan aku alami itulah yang aku tulis. Aku menulis bukan karena nama tetapi karena Rabb-ku...
*****
Bulan Agustus pada tahun kedua Yasmin menjadi mahasiswa, kembali dia menjalani tugas sebagai reporter kampus, tetapi kali ini dia membawahi lembaga dakwah kampus bukan lagi Lentera, UKM Jurnalistik di fakultasnya dulu. Kala itu bertepatan dengan salah satu momen terbesar di kampus yakni Ospek. Agenda perekrutan terbesar, dimana semua aktivis mahasiswa pasti memiliki kepentingan untuk itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya kampus Yasmin selalu mengangkat grand tema ospek yang telah disepakati bersama tiap-tiap fakultas. Peran media disini sangat penting sebagai pencitraan bahwa kampus mereka adalah kampus pendidikan yang mencerdasakan, religius yang nantinya menggiring mahasiswa baru untuk menjadi insan yang berakhlak mulia, itulah tugas Yasmin dan teman-teman seperjuangannya.
Akan tetapi, tahun ini ada sebuah masalah yaitu satu fakultas mangkir dari tema bersama ospek, dia memilih ospek terpisah dengan tema dan peraturannya sendiri, ternyata fakultas yang mangkir itu adalah fakultas Yasmin. Ada masalah internal kala itu antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas dengan BEM Fakultas Bahasa dan Seni. Semua mahasiswa baru yang sesuai peraturan wajib menggunakan atribut baju hitam-putih dan jas almamater, tetapi di fakultas Yasmin diberi kebebasan menggunakan pakaian yang mereka sukai.

Yasmin mendapat tugas untuk mencari berita mengenai masalah apa yang terjadi sebenarnya sehingga fakultasnya mangkir dari kesepakatan tema bersama. Yasmin dengan ditemani satu akhwat, rekan kerjanya mendatangi pusat informasi panitia ospek fakultas tersebut. Suara riuh mahasiswa baru mengiringi langkah pasti Yasmin, sembari memperhatikan ternyata acaranya hanya diisi dengan hura-hura seperti bermain musik, teater, pertunjukan tari. Sedikit kecewa, “Hmm, ospek macam apa ini?” pikir Yasmin. Sesampainya di pusat informasi, ternyata Yasmin dihadang oleh lima orang panitia seksi keamanan.
“Ada perlu apa mba?” tanya salah seorang dari mereka.
“Kami berencana mewawancarai ketua panitia ospek ini?” jawab Yasmin tegas.
“Maaf mba kami tidak melayani media manapun baik universitas apalagi dari luar.” jawab mereka dengan sinis.
“Kami punya kartu pers resmi dari universitas, jadi kami berhak mewawancarai ketua kalian.” Yasmin membalas dengan nada tegas.
“Dibilang tidak bisa ya tetap tidak bisa mba.” yang lainnya ikut menyanggah, mereka semakin mendekati Yasmin seakan mengepung.
Dalam hati Yasmin berkata, “Wah mahasiswa macam apa ini mainnya kroyokan, yang dikroyok akhwat pula.”
“Sudah ukh, kita pergi saja.” kata akhwat tadi sambil menarik-narik baju Yasmin.

Akhirnya mereka pulang, siang itu sungguh panas tetapi tidak sepanas hati Yasmin yang dipenuhi rasa sesal mengapa fakultasnya sendiri seperti itu. Dia tetap menuliskan apa yang dia peroleh dan menyatakan bahwa ospek fakultas bahasa dan seni tidak mencerdaskan mahasiswa baru (maba), dari mulai penjegalan hingga acara dan materi ospek yang diberikan kepada maba mereka Kesokan paginya buletin ospek itu telah tersebar. Tidak lama selang waktu pendistribusian ada pesan singkat masuk ke hp Yasmin.

Salam. Apa kabar Yasmin? Mas Robby sudah membaca bulletin kamu. Bisa ketemu sebentar?

Akhirnya mereka sepakat bertemu di lobi student center, saat itu Yasmin ditemani seorang akhwat yang menjadi partner kerjanya. Teringat akan pesan murrobi Yasmin bahwa tidak boleh menemui yang bukan muhrimnya hanya berdua saja.
“Mas kecewa baca tulisanmu Yas.” Dengan terus terang mas Robby membuka pembicaraan.
“Kecewa kenapa, itu nyata yang Yasmin lihat dan alami?” jelas Yasmin.
“Tapi kamu belum dapat ijin untuk menuliskannya. Asal kamu tahu bahwa inilah puncak kekecewaan kami pada mereka, yang mengaku berdakwah tapi hanya kekuasaan yang dicari, lihat hampir semua BEM diisi dengan laki-laki berjenggot, perempuan berjilbab besar. Kampus kita universal Yas, bagaimana nasib teman-teman kita yang non muslim? Pokoknya multikultural harus diakui dan dihargai. Dan kini kamu bagian dari mereka juga mas tambah kecewa!” kali ini Mas Robby berkata dengan nada keras.
“Apakah ada yang salah dengan kepemimpinan mereka mas? Setahu Yasmin mereka profesional dalam bekerja, saat pendaftaran anggota pun, BEM bersifat terbuka kepada siapa saja, semua mahasiswa boleh masuk baik muslim maupun non muslim asal mempunyai kapasitas?” Yasmin mencoba menjelaskan kepada mantan ketuanya terdahulu saat aktif di UKM Jurnalistik Lentera.
“Apa yang mereka sudah perjuangkan? Kepentingan golongan mereka sendiri?” Mas Robby masih mempertahankan pendapatnya itu.
“Mas Robby sudah tahu program-program BEM apa saja? Pernah terlibat didalamnya? Prestasi apa saja yang telah diraih BEM? Untuk menilai sesuatu memang lebih mudah mas daripada bertindak. Dan satu hal mas, saya yakin teman-teman BEM yang mas sebutkan tadi sangat menghargai teman-teman non muslim. Islam itu rahmatan lil ‘alamin , memberi rahmat dan kasih sayang, sekarang dengan tindakan teman-teman yang ada di fakultas kemudian mangkir dan mendatangkan konflik kemudian perpecahan, apakah itu mencerminkan pribadi seorang muslim? Saya yakin teman kita yang non muslim juga tidak menginginkan adanya konflik seperti ini.” Yasmin mencoba menjelaskan dengan nada yang lebih tenang.
“Oke Yas, kamu bukan anak BEM kenapa kamu begitu membela mereka?” tanya Mas Robby lagi.
“Karena saya membela sesuatu yang saya yakini benar.” jawab Yasmin.
“Ya sudahlah, tolong sampaikan kepada mereka, aku mewakili teman-teman bahwa ini universitas negeri bukan pesantren. Aku masih harus ngurusi fakultasku, aku pamit” kata Mas Robby sambil berlalu.
“InsyaAlloh.” Jawab Yasmin sambil tersenyum. Sembari istighfar Yasmin teringat akan kajian yang lalu bahwa “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya” (Ibnu Katsir)
“Oh itu ketuanya ya mba? Nyebelin banget ya mb?” kata si akhwat yang menemani Yasmin yang ternyata stafnya.
“Hush..gak boleh bilang gitu,ayo..” sambil menggandeng tanganya utuh Yasmin pergi meninggalkan lobi.
*****
Memasuki tahun ketiga kuliah, kali ini Yasmin mendapat amanah di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai Menteri Departemen Komunikasi, Informasi dan Informatika (Kominfo). Saat di BEM lah masa-masa yang cukup berat harus diterima oleh Yasmin. Pada masa itu sedang terjadi gejolak ketidakpercayaan mahasiswa terhadap birokrasi, Yasmin tetap memegang prinsipnya bahwa dia menulis bukan karena nama tetapi karena Rabb-Nya. Bersama teman-teman seperjuangannya di BEM, mereka membentuk tim khusus untuk membongkar kedzoliman yang dilakukan para petinggi birokrasi, ada yang bertugas mencari data, dan tugas Yasmin tetaplah di ranah media. Data-data yang diperoleh kemudian dijadikan berita dan press release di media-media cetak. Pada akhirnya kampus Yasmin menjadi berita nasional, hampir seluruh media cetak maupun elektronik menyiarkan ke ranah publik. Hampir setiap hari diadakan aksi di depan rektorat menuntut para petinggi yang terlibat kasus korupsi untuk mundur dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pihak kampus tidak tinggal diam, BEM dibekukan dan para aktivis dipersulit dalam urusan akademik dan terancam di drop out/DO. Itulah ujian terbesar yang dialami ikhwah di kampus Yasmin tak terkecuali Yasmin sendiri. Bersyukur dukungan ikhwah dari kampus lain cukup besar, mereka saling menguatkan agar dapat terus bertahan dan meningkatkan ruhiyah. Ancaman tak menggentarkan perjuangan mereka. Satu hal yang yang membuat Yasmin menangis, bukan karena terancamnya dia di DO tetapi menangis karena mendengar suara seseorang pada masa-masa gentingnya. Di sela-sela konsentrasinya dalam menyelesaikan kasus tersebut Yasmin sempat menuliskan apa yang dikatakan suara itu....

Dibelakangmu selalu ada orang-orang yang mendukungmu nak..
Jadilah Yasmin yang terus bersabar diatas ketidaksabaran..
Teruslah menuliskan kebenaran nak..
Agar ummi selalu bersyukur akan dirimu...


Ingin rasanya Yasmin memeluk dan mencium kaki umminya sekarang. Sekiranya hanya satu tahun sekali saat lebaran Yasmin baru pulang, “Begitu dzolimkah aku ya Rabb kepada ummiku? Ampuni aku..” doa itu yang terus Yasmin panjatkan. Dikirimkan pesan singkat oleh Yasmin...

Dalam hina dan penuh dosa, ampuni Yasmin ummi..tanpa ridho ummi Yasmin tidak mampu bertahan..

Akhirnya para pejabat rektorat yang terlibat kasus korupsi mundur karena tidak tahan pemberitaan yang sangat gencar dan akan segera diadili oleh pihak kepolisian. Yasmin dan teman-temannya pun selamat dari DO dan BEM diaktifkan kembali.

*****

GORESAN CINTA YASMIN part 1


GORESAN CINTA YASMIN
Oleh. Yunanti Tri Wiranti


Sampaikan dan Laksanakan Kebenaran Walau Satu Ayat...
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." QS.Ali-Imran [3] : 110

*****
Penggalan ayat tersebut cukup membekas di hati Yasmin saat mengikuti kajian di sebuah mushola Fakultas Bahasa dan Seni pada sore hari yang mendung, semendung hati Yasmin kala itu. Ini kajian kali kedua yang Yasmin ikuti, diadakan setiap dua pekan sekali oleh Kelompok Kerohanian Islam dikampusnya. Kalau bukan karena ‘diteror’ terus-menerus melalui sms, telepon bahkan ketika bertemu langsung, Yasmin mungkin tidak akan pernah tertarik akan hadir, istilah teror didapat dari teman-teman Yasmin yang ditujukan khusus kepada ‘Mba’ mentoring mereka, mentoring pendampingan ini diwajibkan oleh pihak kampus kepada setiap mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Mentoring ini sebenarnya bukan hal yang asing bagi Yasmin, karena dulu saat SMA Yasmin sempat mengikutinya, tetapi tidak jauh berbeda dengan keadaan saat kuliah sekarang, teman-temannya tidak kooperatif, malas-malasan ditambah sering mengajak membolos sehingga membuat Yasmin tidak bersemangat dan mengikuti kebiasaan buruk teman-temannya tersebut.
*****
Yasmin Syahida Putri adalah seorang mahasiswa sederhana di sebuah kampus pendidikan negeri di kota yang harus ditempuh 8 jam dari kota asalnya. Dia mengambil jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, memang kecenderungan dia di dunia pendidikan telah muncul pada saat SMA dulu. Dia seorang yang aktif, kritis dan supel, hobinya berpetualang, maka dari itu saat SMA dia memilih pramuka dan pencinta alam sebagai ekstrakulikuler yang diikutinya. Saat menjadi mahasiswa pun Yasmin mencoba tetap aktif, dia memilih UKM Jurnalistik Lentera karena dia suka menulis dan sepertinya ada korelasi dengan program studi yang dia ambil. Dia merupakan kader potensial di UKM tersebut, hampir semua rekan kerja Yasmin menyukainya, hal tersebut dikarenakan ide-idenya yang cemerlang, kreatif dan hasil-hasil kerja yang memuaskan. Kini dia menjelma menjadi wartawan kampus yang supel dan dikenal banyak mahasiswa di fakultasnya.
*****
Sore itu memang hati Yasmin sedang tidak bersemangat, bukan karena keterpaksaan mengikuti kajian tetapi karena tugas kuliah yang menumpuk ditambah lagi deadline tulisan yang wajib diselesaikan. Yasmin berfikir semoga saja mendapat pencerahan disini, setidaknya merefresh diri dari rutinitas selama ini.
“ Assalamu’alaykum..Alhamdulillah de Yasmin!” sapaan ramah Mba Silfia, dan tidak ketinggalan tradisi berpelukan dan mencium pipi kiri serta pipi kanan. Terlihat raut wajah bahagia sekali dari Mba Silfia melihat kedatangan Yasmin sore itu.
“Wa’alaykumussalam..” Yasmin pun menyambut pelukan hangat mba mentoringnya tersebut.
“Yang lain mana de?” tanya Mba Silfia lagi.
“Hehehe...gak ikut mba sedang banyak tugas kuliah.” jawab Yasmin. Dia selalu tidak enak setiap kali ditanya terkait teman-teman satu mentoring yang memang sama sekali tidak tertarik dengan kajian seperti ini.

Yasmin mendengarkan dengan cermat materi yang disampaikan sang ustadz. Materi yang disampaikan tentang ‘Dakwah Ilallah’, Yasmin sering mendengar kata itu tetapi baru kali ini dia mendapatkan penjelasan apa itu dakwah serta kewajiban seorang muslim dalam mengemban tugas dakwah. Di tengah kajian Yasmin sempat memperhatikan sekitar mushola, ada semacam kain yang memisahkan peserta puteri dan putera.
“Oh ini yang namanya hijab yang pernah Mba Silfia sampaikan.” gumam Yasmin.
Kemudian dia pun memperhatikan peserta kajian puteri yang duduk disekelilingnya.
“Wah sepertinya yang memakai celana kain cuma aku nih.” kata Yasmin dalam hati. Ada perasaan malu sedikit tetapi dia tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan tetap melanjutkan penjelasan sang ustadz.
“Gak ada aturannya kan syarat yang mengikuti kajian ini hanya boleh muslimah yang memakai rok? Yang pentingkan niat kita mencari ilmu” bela Yasmin dalam hati.

Di tengah-tengah kajian ada selebaran yang berisi informasi pendaftaran trainning dasar sebagai anggota untuk mengikuti organisasi Islam ekstrakampus.
“Daurah itu apa mba?” bisik Yasmin kepada Mba Silfia yang ada disampingnya setelah membaca ada kata daurah di selebaran tersebut.
“Semacam pelatihan atau trainning. Anti mau ikut de?” jawab mba Silfia. Belum sempat Yasmin menjawab, “Ikut aja ya de. InsyaAllah sangat bermanfaat.” Kata mba Silfia lagi.
Yasmin hanya bisa tersenyum menjawab pertanyaan mba Silfia tadi.
“Oh, lembaga ekstrakampus ini yang banyak dibicarakan oleh pengurus Lentera.” kata Yasmin dalam hati.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, kajian pun sudah selesai, beberapa peserta sudah mulai meninggalkan mushola demikian juga dengan Yasmin.
“Giman kajiannya de?” tanya mba Silfia.
“Bagus mba.” jawab Yasmin. Jawaban klise tetapi ya sementara itu yang bisa Yasmin jawab.
“Besok ikut lagi ya.” kata mba Silfia.
“InsyaAllah mba.”jawab Yasmin sambil menyalami mba mentornya tak tertinggalan tradisi cipika-cipikinya.
“Jangan lupa ya teman-temannya diingatkan besok kita mentoring” balas mba Silfia.
“Sip mba.” sambil mengacungkan jempolnya, kemudia tersenyum meninggalkan mba Silfia.

Yasmin menuju area parkir untuk mengambil sepeda kesayangannya. Dalam perjalanan pulang, sambil mengayuh sepeda birunya, tiba-tiba Yasmin teringat akan isi selebaran saat kajian tadi. Yasmin jadi teringat pesan Mas Robby ketua Lentera dan beberapa pengurus lainnya di UKM tersebut bahwa jangan sampai ikut lembaga ekstrakampus ini, karena lembaga tersebut berisi orang-orang munafik, yang mengaku muslim, berdakwah akan tetapi sebenarnya menginginkan kekuasaan bahkan menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Semakin membuat Yasmin penasaran apa benar yang dikatakan teman-temannya itu. Yasmin mendengar juga bahwa lembaga tersebut berisi mahasiswa berjibab besar dan mahasiswa berjenggot, hampir sama dengan mahasiswa yang dia temui saat kajian tadi dan sama pula dengan mba Silfia, mentornya di mentoring pendampingan PAI. Tetapi selama dia mengenal mba Silfia, apa yang dikatakan mas Robby jauh berbeda dengan kenyataan yang dia lihat bahwa seorang mba Silfia sosok mahasiswa berjilbab lebar itu sangat ramah, lembut, perhatian dan selalu menasehati dalam kebaikan. Mana mungkin menghalalkan segala cara guna mendapatkan kekuasaan. Selain itu juga lembaga ini sukanya demo atau aksi turun ke jalan. Dalam hal ini bukan menjadi masalah bagi Yasmin, aksi juga diperlukan untuk menyuarakan kebenaran, sebagai mahasiswa kan memang harus kritis dan tentunya memberikan solusi terkait permasalahan yang terjadi. Selama perjalanan hanya selebaran tadi yang Yasmin pikirkan, ada keinginan untuk membuktikan apa benar yang dikatakan teman-temannya di Lentera tentang lemba ekstrakampus tersebut.
*****
Hasil pemikiran selama dua hari akhirnya Yasmin memutuskan untuk ikut mendaftar sebagai peserta daurah yang diadakan organisasi ekstrakampus itu. Yasmin sengaja untuk merahasiakan hal ini dengan teman-temannya di Lentera. Yasmin menyiapkan segala keperluan yang disyaratkan, cukup banyak karena daurah ini dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, Yasmin semakin bersemangat karena teringat SMA dulu saat akan mengikuti kegiatan pramuka maupun pencinta alam.
*****
Sepulangnya dari daurah tersebut, terlihat banyak sekali catatan panggilan dan sms di hp Yasmin, memang sengaja hp nya dia tinggal tanpa dimatikan, tetapi sebelumnya Yasmin telah berpamitan kepada orang tua dan penghuni kos sehingga tidak ada yang khawatir. Hampir semua panggilan dari mas Robby dan pengurus Lentera. Banyak pertanyaan yang menanyakan sebenarnya dia pergi kemana sehingga meninggalkan rapat dan agenda di UKM tersebut. SMS terakhir yang Yasmin baca adalah sms dari ketuanya yang berisi :

Salam. Besok mas Robby ingin bertemu di sekret jam 9, penting.

Yasmin sudah menduga pasti banyak pertanyaan dan permintaan pertanggung jawaban darinya. Malam itu Yasmin sangat kelelahan, daurah cukup menguras tenaga dan pikiran Yasmin. Yasmin dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak ada yang aneh dengan organisasi ekstrakampus tersebut, bahkan materinya tidak pernah dia dapatkan dari pelatihan-pelatihan mana pun. Melalui lembaga tersebut bahkan dapat mencetak kader yang tangguh, berwawasan luas dan yang terpenting berakhlak dan beriman dengan benar, jauh sekali dengan apa yang dikatakan teman-temannya.

Keesokan harinya selesai kuliah pukul 08.50 Yasmin menuju sekret Lentera, ternyata mas Robby sudah ada di sana terlebih awal dari perkiraan Yasmin.
“Assalamu’alaykum.” sapa Yasmin.
“Wa’alaykumusalam, masuk Yas.” jawab mas Robby tidak ramah seperti biasanya.
“Maaf mas kemarin...” Yasmin mengawali akan tetapi sudah dipotong oleh mas Robby, “Sudah, mas sudah tahu kemarin kamu kemana. Ini segera diselesaikan kajian sastra untuk bulletin kita bulan ini. Saya kuliah dulu.” dengan tanpa panjang lebar dan tanpa menatap Yasmin, Mas Robby berlalu begitu saja sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi materi bulletin bulanan UKM tersebut.
Ada yang berbeda dari sikap mas Robby dan beberapa pengurus lainnya semenjak kepulangan Yasmin dari mengikuti daurah tersebut. Yasmin merasa ada kesalahan yang dia perbuat sehingga dia berhak untuk diperlakukan seperti ini. Adanya masalah ini tidak mempengaruhi cara kerja Yasmin, dia berusaha sebaik mungkin dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
*****
Satu bulan sudah berlalu dari saat Yasmin mengikuti daurah tersebut. Banyak undangan yang datang kepada Yasmin untuk menghadiri rapat kepanitiaan maupun kajian-kajian yang diadakan lembaga ekstrakampus itu. Yasmin berusaha menghadiri undangan yang ditujukan kepadanya, kegiatannya pun semakin padat dan dia berusaha berlaku adil dan seimbang dalam membagi waktu antara kuliah, Lentera dan ditambah aktifitas barunya di lembaga ekstrakampus, walaupun dia tidak masuk dalam kepengurusan. Perubahan yang mencolok terasa sekali terkait keberadaanya di Lentera. Yasmin hampir tidak pernah dilibatkan sebagai konseptor dari berbagai program, tidak juga dilibatkan dalam pemecahan masalah yang sedang dialami UKM tersebut, berbeda sekali kondisinya dengan dulu saat dia belum mengikuti daurah.
*****
Tahun pertama kuliah sudah habis, banyak perubahan yang Yasmin alami, baik dari penampilan maupun dalam bersikap. Celana-celana kainnya sudah mulai jarang dipakai serta jilbabnya sudah mulai dirapikan dan dijulurkan ke dada walau belum selebar akhwat-akhwat lainnya seperti mba Silfia misalnya. Yasmin pun mulai mengkoleksi buku-buku islami, buku islami yang pertama dia punya adalah “Agar Bidadari Cemburu Padamu” karya Salim A. Fillah dan “Komitmen Muslim Sejati” karya Fathi Yakan. Kedua buku tersebut sungguh menginspirasi Yasmin untuk berhijrah menjadi muslimah sejati yang senantiasa menjaga sikap, lisan dan tangannya untuk tetap berada di jalan Allah.
*****
Hari itu adalah laporan pertanggung jawaban UKM Jurnalistik Lentera. Ada rasa bahagia karena hasil dari kerja kerasnya beserta teman-teman dinilai baik oleh mahasiswa sefakultasnya yang hadir pada saat itu. Akan tetapi, ada rasa sedih di hati Yasmin karena diakhir masa kepengurusan dia merasa meninggalkan kesan kurang baik di hati teman-teman pengurus yang lain.
“Yas, mas mau bicara.” Tiba-tiba mas Robby memanggil, dan Yasmin pun menghampirinya.
“Alhamdulillah yas, nilai kita baik inilah hasil kerja keras kita, kerja keras kamu.” kata mas Robby.
“Alhamdulillah, ini juga berkat kehebatan mas Robby dalam memimpin dan membimbing kami, yang belum berilmu dan berpengalaman sepeeti Yasmin. Terima kasih banyak mas.” jawab Yasmin.
“Maafkan atas sikap mas akhir-akhir ini ke kamu Yas, mas menyesal tidak semestinya mas memperlakukan kamu seperti itu. Kamu tidak salah apa-apa, kami yang bersalah kepadamu.”, terlihat raut muka Mas Robby sedih dan penuh penyesalan.
“Yasmin yang salah, seharusnya mengkomunikasikan hal itu lebih awal terutama kepada mas Robby, maafkan Yasmin juga ya mas.” jawab Yasmin.
“Sama-sama. Kamu hebat Yas, kamu berbakat, mas salut.” kata mas Robby lagi.
“Amiin terima kasih.” ucap Yasmin.
“Banyak perubahan yang kamu alami setelah mengikuti agenda itu. Mas Robby ikut seneng kalo kamu sekarang menjadi jauh lebih baik. Mas gak memaksa kamu untuk tetap berkarya di Lentera kita ini. Hanya mas berpesan jangan berhenti menulis dan jadilah diri sendiri.” kata Mas Robby serius kepada Yasmin.
“InsyaAlloh, Yasmin gak akan berhenti nulis dan akan menjadi diri Yasmin sendiri.” ujar Yasmin sambil tersenyum.
“Ini ada kenang-kenangan untuk kamu.” Mas Robby memberikan sebuah bungkusan kecil kepada Yasmin sebelum dia pergi.
Ternyata bungkusan itu berisi recorder dan ada pesan di dalamnya.

Ini akan bermanfaat bagi kamu. Aku berharap kamu tetap menjadi Yasmin yang dulu aku kenal.

Yasmin melipat kembali secarik kertas itu dan menyimpan recorder itu ke dalam laci meja belajarnya. “Terima kasih Mas Robby.” ucap Yasmin dalam hati. Dia bertekad akan membuktikan bahwa apa yang selama ini teman-teman yakini itu salah. Setelah ini Yasmin berniat berkarya dan berkontribusi untuk Rabb-Nya semata melalui tulisan-tulisan sederhana yang dia buat.

Senin, 31 Januari 2011

Misteri Rezeki


Map biru tebal kini sudah ada ditanganku, selama empat tahun dengan berbagai lika liku yang menyertainya barulah aku diijinkan untuk menyentuhnya menggenggamnya bahkan memeluknya. Hari itu kampusku melulusakan ribuan sarjana,sudah menjadi harapan semua orang termasuk aku dan kedua orang tuaku pastinya dengan bebekal ijazah tersebut, kami dapat sesegera mungkin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmu kami dan dengan penghasilan yang tinggi tentunya.

Jadi teringat akan gurauan beberapa teman, "Jangan mau lulus cepet, itu berarti kamu bakal cepet jadi pengangguran.."
"Ah...setidaknya kalo sudah lulus ada perasaan lega, satu fase sudah terselesaikan, tinggal mempersiapkan untuk menghadapi fase selanjutnya..", pikirku.
Ada lagi pendapat temanku yang lain, "Masih ada tanggungan, kalo semua lulus siapa yang akan ngurusi kampus? Malu je keluar dari kampus belum menghasilkan sesuatu.."
Hmm...Sifat manusia memang terus merasa kekurangan..Dia hanya melihat apa yang tidak ada, dia hanya melihat apa yang kurang, tanpa melihat sebenarnya dia sudah memiliki banyak hal. Begitu pula dengan 'kontribusi' yang dia berikan. Kan ada regenarasi, pengkaderanya bagaimana? Jangan jadikan amanah dakwah sebagai legitimasi untuk menghambat tidak lulus tepat pada waktunya. Yakinlah ini semata karena ada masalah pada menejemen diri kita..

Lho koq malah jadi mbahas masalah ini..? Kembali ke pokok topik kita yaitu masalah "Rezeki.."
Berbekal ijazah aku mulai membuat surat lamaran pekerjaan..Sudah aku siapkan sekitar sepuluh lamaran yang siap didistribusikan..:)..Dari pagi hari hingga siang, dari satu sekolah ke sekolah lainnya baik negeri maupun swasta, motor matic ku setia menemani.

Syukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepadaku, jujur ketika mahasiswa orang tua hanya menuntutku untuk kuliah yang benar dan lulus dengan hasil yang memuaskan,cukup tanpa dipusingkan dengan perkara biaya apapun. Tetapi kini, aku merasakannya sendiri bagaimana mencari maisyah tidak segampang yang aku pikirkan dulu.

Salah satu penngalaman yang aku alami, ini nyata keluar dari seorang guru di salah satu SMP Negeri di kotaku, "Jaman sekarang sulit mba, kalau tidak punya koneksi."
"Koneksi macam apa?", pikirku.
"Mba harus membangun hubungan yang baik dengan Kepala Sekolah atau minimal Wakasek misalnya, atau perlu saya bantu?" itulah ucapan seorang bapak guru kepadaku ketika aku mencoba memasukkan lamaran ke sekolah tersebut.
"Saya takut Mba akan putus asa jika memang hanya bermodalkan lamaran seperti ini dari sekolah satu ke sekolah lainnya." jelas Bapak itu lagi.

Saya bisa nangkep apa yang dimaksud guru tersebut. Sedih, miris mendengarnya. Untuk menjadi guru honorer harus melalui jalan yang tidak halal..astaghfirulloh..!
Jadi teringat cerita kakak kandungku di sebuah Rumah Sakit, seseorang perlu membayar sepuluh juta rupiah untuk menjadi cleaning service di Rumah Sakit tersebut. MasyaAlloh. Bagaimana dengan profesi lainnya, seperti polisi misalnya??

Sebuah teka-teki kehidupan, banyak orang menghalalkan segala cara hanya karena ingin mencapai apa yang dia inginkan seperti masalah pekerjaan misalnya. Bagaimana pekerjaan itu akan mendapat keberkahan dari Alloh jika diawali dengan sesuatu yang tidak halal?

Hidup ini episodik, aku yakin sekali beruas-ruas seperti batang bambu, tidak lurus mulus seperti tiang listrik yang berada di depan rumahku. Ruas-ruas tersebut dipenuhi dengan pergiliran kehidupan antara kesempitan dan kelapangan. Aku meyakini hal ini, karena Allah menyebutkannya dalam sepotong ayat dalam QS. Al-Insyirah 5 – 6 … faa innama’al usri yusraan, innama’al usri yusraan ... sebuah kalimat yang sama diulang dua kali berturut-turut. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan ada kemudahan.

Dua bulan aku menanti lamaranku mendapat respon, tetapi ternyata belum juga teleponku berdering atau pun ada sms yang mengabarkan kabar gembira kepadaku.
Hingga pada akhirnya di suatu acara aku bertemu dengan seseorang, kami saling berkenalan..Alhamdulillah rencana Allah memang indah, ternyata Alloh menjawab doaku.Aku mendapat tawaran sebagai guru kelas di sebuah SD Islam Terpadu Alam, awalnya aku pun ragu bagaimanpun spesifikasi keilmuanku adalah menjadi guru mapel matematika di SMP, SMA maupun SMK. Bisa ditebak kedua orang tuaku pun tidak mendukung pada saat itu, mungkin dengan pertimbangan berapa gaji yang akan aku peroleh sebagai seorang guru di SDIT yang baru 3 tahun berdiri.

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Az Zukhruf : 32)

Bahwa Allah-lah yang mengatur pembagian rezeki kepada hambanya, Allah-lah yang mengatur penghidupan kita (ma'isyah kita) bukan orang lain, bukan pelanggan, bukan pimpinan perusahaan dan bukan diri kita, tapi Allah-lah yang menentukan seberapa banyak rezeki kita hari ini dan esok.

Kita tidak pernah tahu takdir kita sebelum takdir itu terjadi, oleh karena itu tetaplah berusaha bekerja sungguh-sungguh dan banyak beramal kebaikan untuk menyambut takdir kita, karena kita akan dipermudah menuju takdir kita.

Kalau sekarang kita sedang dalam kesulitan dan kesusahan, jangan bersedih, sebab pada saatnya nanti kita akan diberikan kegembiraan. Mungkin 1 tahun atau mungkin 3 tahun lagi, kita bisa bercerita pada orang lain bagaimana kita bisa bertahan dan menasihati mereka cara menyelesaikan masalah serupa itu. Karena hidup ini adalah pergiliran, seperti yang aku katakan bahwa hidup kita seperti ruas-ruas bambu, sudah selayaknya bila kita tidak pernah lupa untuk bersyukur pada tiap jengkal rizki Allah.

Semoga ini mampu menjadi pengingat bagiku dan sahabat-sahabat sekalian untuk terus bersyukur atas segala nikmat yang Alloh berikan kepada kita.

Senin, 24 Januari 2011

Babak Baru Bagiku


Tiga bulan sudah kembali aku menempati kamar yang selama 4 tahun aku tinggal..dulu tembok itu penuh terisi pigura foto narsis bersama sahabat dan keluarga..satu per satu foto itu sudah kuturunkan..kuganti dengan rak berisi buku-buku oleh-oleh dari perantauanku mencari ilmu selama 4 tahun di Yogyakarta.

Bulan pertama..belum genap sepekan kondisi fisikku drop..awal cuma panas..setelah 2 hari baru turun gantian perutku tersa keram dan sakit.Hasil USG mengatakan banyak sekali pembengkakan di hati dan empedu. Ternyata Allah sedang memberi nikmat begitu besar kepadaku. Dari rumah sakit daerah tempatku tinggal aku dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Alhamdulillah satu bulan setelah dirawat aku diijinkan pulang.

Bulan kedua..aku mulai beraktifitas dengan lingkungan dan sahabat baru. Berbekal surat dari jogja akhirnya aku dapat merasakan kembali indahnya lingkaran cinta bersama keluarga baruku. Kesan pertama yang tak mungkin terlupakan, suara anak kecil kini mengikuti majelis ilmu kami dari mulai tawa bahkan tangisan...lucu. satu hal yang membuat aku terkesan..semangat mereka dalam mencari ilmu, jauh-jauh datang kadang hujan, dengan mengendarai motor sendiri bahkan sambil memangku anak didepan maupun di belakang. maklumlah para ummi itu beberapa blm memiliki khodimat.tetapi ruh dan semangat mereka begitu terasa dan semoga cepat menular padaku..(semangat mencari ilmu dan semangat berdakwah tentunya..:))..malu kiranya jika raga ini loyo ,malas-malasan sedangkan secara fisik aku lebih muda dr mereka..

Bulan ketiga..hmm..hidupku mulai berwarna...inilah babak baruku di kota ini, aku sedang belajar menjadi fasilitator bagi masyarakat..InsyaAlloh masih dengan sejuta azzam tuk berani berikhtiar karena Allah,Rasul,dan Jihad..

Dakwah, penuh cerita ,cerita tentang jundi-jundinya yang dengan semangat terus bergerak menembus batas. Cerita tentang segala asa, langkah, impian, semuanya......., cerita tentang pahit, getir, bahagia, kejutan, ya........semuanya.
Semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan untuk terus membumikan syariat Islam dan menjadi Khoirul Labinah dalam dakwah.

Wallahu'alam bish showab

PAST TENSE


Galau, lagi. Mungkin memang harusnya aku tidak usah menengoknya lagi. Teruskan saja hidup, toh yang lalu tak kan kembali. Memandang lurus ke depan, di mana kehidupanku selanjutnya telah ditata rapi. Pergi menjemput apa-apa yang telah disiapkan-Nya untukku. Tak perlu repot-repot memusingkan yang di belakang. Biarkan saja ia menguntit, asal tidak mengganggu. Begitu kan? Tapi namanya juga manusia, tetap ada masa jedanya. Berhenti, lalu menoleh. Mencari-cari, apa-apa yang telah dilewatinya selama ini. Mengorek cerita dari buku berjudul “Kenangan Masa Lalu”. Hmm… Kadang memang perlu, biar kita tidak mengulang kesalahan di masa lalu. Biar kita semakin dewasa, tidak terus-terusan stuck di tahap itu-itu saja. Tapi ya jangan kelamaan. Jangan kelewatan, lantas lupa kalau yang di depan itu namanya ‘masa depan’. Itu lho, kaca besar di depan mata menunggu untuk dibersihkan. Biar kelihatan jelas jalannya. Jangan terus-terusan ngelirik spion di sebelah kanan. Jangan kayak aku beberapa hari ini……

* * *

Duh Gusti Yang Maha Pengampun.. Hamba mohon ampunan-Mu.. Semoga pemandangan di spion hamba tidak menghalangi hamba untuk terus membersihkan kaca depan..

[masa lalu, sekarang ini kau membuatku semakin gundah saja.. semakin kujauhi semakin teringat.. tolong, biarkan aku berjalan tanpa perlu menggenggam secuil penyesalan tentangmu, ya?]

Selasa, 12 Oktober 2010

Melanjutkan ke fase selanjutnya

Bismillahirahmaanirrohiim..

Alhamdulillah satu tahapan dalam pencapaian cita-cita sudah tertunaikan tepat waktu dengan hasil yang patut disyukuri. Empat tahun bergelut bersama segala macam bentuk kegiatan perkuliahan, bem, tutoriall, kammi, dan formula. Proses selama empat tahun pun terasa pendek. Perputaran waktu itu memang bisa terasa ataupun tidak. Satu hal yang diri ini introspeksi adalah apakah sudah cukup bekal atas ilmu-ilmu yang sudah dipelajari selama empat tahun untuk menuju fase berikutnya...Berharap agar ALLAH selalu membukakan pintu kemurahanNya pada ku untuk bisa memahami ilmu-ilmuNya..
Kembali pulang..kota Purbalingga Perwira..satu tempat kuputuskan untuk menjalani fase selanjutnya..sebuah kota kupilih untuk melanjutkan cita-cita.
Itulah pilihan tempat setelah ikhtiar dan menjatuhkan pilihan padanya.Kota yang kecil, jauh sekali dari hiruk pikuk keramaian yang tidak seperti Yogyakarta.Kan ku dapatkan keramah tamahan kota dan penduduknya..
Nikmati proses yang ada dan bersabarlah... jika tidak, maka yang ada adalah kejemuan dalam menjalaninya.
Semoga selalu ada nikmat Sang Razaq yang bisa aku syukuri dan ada kesempatan untukku bisa menjalani semua ini...
Bersyukur kepada ALLAH atas segala nikmatNya, MasyaALLAH...
Berterimakasih kepada...
MAMA dan PAPA..Semoga bisa menambah kebahagiaan dan kebanggaan, walau belum seberapa dibanding apa yang mama dan papa berikan. semoga SYURGA ALLAH adalah kado terindah buat mereka kelak. Aamiin ya ALLAH..

Kakak2ku..MBA IKA ,MBA DESY dan MAS AGUS
Terima kasih atas doa dan dukungannya..maafkan adik kalian ini yang terus menyusahkan..

Keponakanku AZZAH dan FIZI..
Rajin belajar, kalian harus jadi anak sholeh yang hebat!!

IVY,DINA, NUHA, IDA dan DANIK..sahabat tanpa sebuah keimanan tidak ada artinya..jazakillah ukhti, semoga ukhuwah ini akan terus terjalin hingga kita dipertemukan di syurgaNYa

Lingkaran Cintaku..
Kalian yang membawaku ke daerah yg belum pernah ku lihat keindahannya sebelumnya,yang selalu membuat cemburu kpd nikmat dan indahnya jalan ini. Dan kini aku pun benar-benar jatuh cinta..

Murobbiku..Masih terasa kehangatan itu..saat rangkulan sebagai tanda kepedulian untukku kau hadirkan..jazakillah atas cinta, kesabaran, pengalaman ruhiyah dan ilmu yang diberikan..pastinya tak kan tergantikan.

Teman2 Pend.Math.R.2006, HASKA JMF FMIPA, BEM FMIPA UNY, KAMMI Komsat UNY, BEM REMA UNY, tempat belajar yang luar biasa, terimakasih kawan-kawan.

Malaikat, penduduk langit dan bumi, dan seluruh umat manusia yang mengajarkan kebaikan..

Rabu, 16 Desember 2009

A.K.U I.N.G.I.N C.U.T.I


Kuhempaskan tubuhku di atas kasur sepulang kuliah. Fyuuuh...Capek. Penat. Ditambah panas Jogja yang kian menyengat. Kusadari, tubuhku begitu lemah, mudah capek dan lelah. seringkali ketika bangun dari duduk, mendadak dunia berubah gelap, lalu sekonyong-konyong aku terjatuh. Roboh. Mungkin kurang darah. Entahlah, aku malas periksa. Aaah, aku memang lemah.. Namun, satu yang membuatku tetap bertahan. SEMANGAT! Semangat tholabul 'ilmi, semangat mengamalkannya, semangat mendakwahkannya, semangat berfastabiqul khairat, semangat untuk meraih ridhoNya dan menggapai cintaNya. Ya Rabb...Jangan pernah Kau biarkan api semangat itu padam...amien!
Kuhampiri cermin yang menggantung di dinding kamarku. Di sana, ada seseorang yang tak asing lagi bagiku, namun hampir saja aku melupakannya, hampir saja aku tak mengenalnya. Kuperhatikan dirinya yang juga memerhatikanku. Kutatap ia dan ia pun balas menatapku. Ah, jasad itu, betapa sering aku mendzoliminya. Wajah itu, begitu lama tak kurawat dan kini tampak pucat.
"Kau harus bertanggung jawab karena telah mengabaikan amanah Allah untuk menjaga dan memeliharaku. Kau harus tanggung jawab!" lanjutnya dengan nada ketus. Raut wajahnya memerah. Jelas sekali bahwa dia sedang marah. Padaku? Ah, biar saja!
"Kau juga egois! aku punya kewajiban lain yang harus kutunaikan. Bukan hanya ngurusin kamu!" balasku tak kalah sinis. Huh! aku jadi kesal dibuatnya. Tumben tiba-tiba dia marah?! Padahal, setiap kali ku memandang wajahnya, seulas senyum manis yang selalu kuterima. Semangat dan optimis yang memancar dari dirinya. Tapi, tidak kali ini! Ia betul-betul marah! Matanya melotot seperti ingin menelanku hidup-hidup. Nafasnya naik turun tak beraturan. Dan mulutnya, seolah ingin melumatku habis-habisan!
"Kenapa?! Kau ingin protes?? Silakan." tantangku. Aku semakin jengkel dibuatnya. Wajahku kutekuk dan kepalaku seakan mengeluarkan asap

"Boleh aku bicara?" Tiba-tiba terdengar suara lain yang ikut dalam pertengkaran kami. Sayangnya, suara ketiga ini bukan malah membelaku, tapi justru membuat posisiku semakin terpojok.
"Aku juga ingin protes. Lihatlah aku, begitu kering dan ringkih. Akhir-akhir ini kau jarang menyiramnya dengan amalan yaumiyah. Tilawah, kau kurangi jatahnya. Qiyamullail udah jarang, karena kau lebih sering melembur sampai larut malam, dengan alasan ngerjain proposal lah, tugas kuliah lah. Ma'tsurat, kau bilang gak sempat. Alasanmu, sibuk syuting (syuro penting) yang terkadang bisa lima kali dalam sehari (melebihi jatah minum obat tuh!). Dzikkir pun cuma sisa-sisa waktu. Lalu mana jatah mengisi bateraiku? 'Kencan pekanan' saja tidak cukup bagiku! Kapan kau luangkan waktumu untukku?"
"Oh Rabb...Aku seperti terhempas ke dasar jurang yang terjal dan curam. Hatiku serasa tertusuk sebilah belati tajam. Ya Allah...ampuni hamba...Jasad telah terdzolimi. Ruhiyah ini juga! Aku telah merampas hak-hak mereka! Hamba telah berdosa..." batinku bergejolak.
Tubuhku lunglai, lemas, tak berdaya. Hujan di mataku begitu derasnya. Saat ini aku hanya ingin menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba datang suara lain yang tak kukenal,
"Kau begitu lemah! Rapuh! Di balik kobaran semangatmu, ternyata kau sangat keropos! kau lelah kan? Kau jenuh kan? Sudah...akhiri saja semua! copot gelarmu sebagai aktivis dakwah. Toh, masih banyak temanmu yang akan memperjuangkan ajaran Tuhanmu itu! kau bukan malaikat! Kau hanya manusia lemah berlagak kuat. Kapasitasmu sangat terbatas! Jangan sok tangguh gitu deeh...Sudahlah...lepas saja amanah-amanah dakwahmu itu! Bukankah ada amanah ortu untuk belajar dan lulus kuliah tepat waktu? Tidak inginkah kau merasakan hidup tenang tanpa beban? Nikmati saja dunia yang sementara ini, mumpung masih muda."
Ya Allah...Suara siapa lagi itu? Kepalaku mendadak pening luar biasa. Pikiranku semakin kacau balau. Semraut! Sulit bagi otakku memilah mana yang benar dan mana yang salah. Aku bingung!
"Sudah...jangan bingung. Begini saja, kalau kau memang tak mau melepas gelar da'imu, mending kau minta cuti saja pada Tuhanmu. Toh, suatu saat nanti, jika keadaanmu sudah pulih, kau bisa kembali berdakwah dan bergabung dengan kawan-kawanmu yang sok suci itu." lanjutnya.
Cuti? apa aku harus cuti dakwah? Aaaarrgghh....kenapa kepalaku semakin pusing. Kupaksa otakku berpikir tanpa memedulikan jeritan nuraniku yang berontak tak setuju.
"Mungkin saja dia benar. Aku memang sangat lelah. Aku jenuh dengan semua masalah yang menyerangku bertubi-tubi. Mungkin inilah puncak kefuturanku. Aku ingin merasakan tidur dengan lelap, sejenak saja! Tanpa beban, tanpa masalah! Ya, aku ingin cuti dakwah!" kata batinku mantap. "Tapi, tunggu dulu! Pantaskah? Layakkah?" sambungku kemudian.

"Pantaskah aku meminta cuti pada Rabbku yang telah mengabulkan setiap do'aku dan memberi segala yang ku mau? Layakkah aku meminta cuti, sementara aku belum mempersembahkan kado terindah untuk dakwah? untuk Allah...Akankah kubiarkan segala yang kuperjuangkan menguap begitu saja? sia-sia? Sungguh, aku belum berbuat apa-apa! aku malu....aku adalah hamba yang tak tahu diri! Tak tau terima kasih! Oh Rabb...betapa rapuhnya diri ini. Baru sedikit ujian saja, aku mengeluh, menyerah, mundur dan ingin gugur!"
"Ya Allah...mengapa sampai terbesit pikiran ingin cuti dari dakwah? Padahal, belum tentu aku masih di dunia ini setelah masa cutiku habis. Siapa yang menjamin usiaku masih panjang?! Bagaimana jika dalam masa cuti, Allah memanggilku dan meminta pertanggungjawabanku?! Bekal apa yang akan kubawa? Lalu bagaimana jika aku terlena dan enggan kembali berdakwah? Astaghfirullah....Alangkah bodohnya aku! Mungkin iya, aku lelah, aku capek, penat, jenuh! Tapi, bukankah itu biasa?! Setiap orang pasti pernah merasakannya. Iman kan yaziidu wa yankus, kadang naik kadang juga turun. Mungkin inilah saatnya ia turun, bahkan mungkin sampai pada titik kulminasinya. Akibatnya, ruhiyahkiu gersang, jasadku letih. Wajar saja jika mereka protes. Akulah yang salah karena kurang bisa memanaj waktu. Akhirnya, jadi tidak tawazun dan berbuntut pada kefuturan yang teramat sangat. Tapi, ketika itu terjadi, hal pertama yang harus kulakukan adalah berusaha untuk bangkit kembali! Berbenah diri, menata hati, meluruskan niat, dan mencoba memungut kembali segala amal yang berserakan untuk kemudian kuperjuangkan! Sungguh, kereta dakwah ini akan terus melaju, meski tanpaku. Masih banyak generasi tangguh yang militansinya jauh lebih dahsyat dariku yang akan melesat bersamanya. Roda dakwah akan terus berputar meski aku keluar dari orbitnya. Takkan berkurang kemuliaan Dien ini meski aku mundur dari memeperjuangkannya. Dan jika semua itu benar-benar terjadi padaku (jatuh, mundur, dan gugur), maka akulah satu-satunya yang akan merugi! akulah yang rugi! Na'udzubillah...."

"Cukup sudah! saatnya kulemparkan jauh-jauh pikiran "aneh" yang sempat mampir di otakku. Cuti dakwah? Ah! tak ada istilah itu dalam kamus perjuanganku. Tak akan ada lagi bagian dari diriku yang kudzolimi. Sekuat tenaga akan kucoba untuk menyeimbangkannya (tawazun) dan memenuhi hak-haknya, tanpa mengabaikan kewajiban-kewajiban yang lain. Ini tekadku! Semoga Allah tetap setia membimbing dan menuntun langkahku..."

Kututup gejolak jiwaku, dengan sebuah do'a,
"Yaa Muqoolibal Quluub, Tsabbit Quluubana 'Alaa Diinika..."

Kubuka inbox HPku dan kubaca kembali pesan cinta dari saudaraku di jalan Allah beberapa waktu lalu,

Ada yang mengeluh,
merasa jenuh,
ingin gugur,
dan jatuh.
Ia berkata, "LELAH...!"
Ada juga yang lelah,
tubuhnya penat,
tapi semangatnya kuat.
Ia berkata, "LILLAH...!"
karena Allah,
ikhlaslah...

Cess..! Embun syurga seakan berjatuhan dan membasahi jiwaku yang kerontang...
"Maka, berlelah-lelahlah sekarang, bersakit-sakitlah saat ini, karena kenikmatan yang abadi InsyaAllah kan kita rasakan di jannahNya nanti..."


NB: Alhamdulillah...lelahku seketika lenyap seiring selesainya tulisan ini. Terimakasih kepada Allah 'Azza wa Jalla yang senantiasa mengingatkan kedho'ifanku sebagai hamba. Allah, aku semakin cinta...Segala puji hanya bagiMu...