Rabu, 16 Desember 2009

A.K.U I.N.G.I.N C.U.T.I


Kuhempaskan tubuhku di atas kasur sepulang kuliah. Fyuuuh...Capek. Penat. Ditambah panas Jogja yang kian menyengat. Kusadari, tubuhku begitu lemah, mudah capek dan lelah. seringkali ketika bangun dari duduk, mendadak dunia berubah gelap, lalu sekonyong-konyong aku terjatuh. Roboh. Mungkin kurang darah. Entahlah, aku malas periksa. Aaah, aku memang lemah.. Namun, satu yang membuatku tetap bertahan. SEMANGAT! Semangat tholabul 'ilmi, semangat mengamalkannya, semangat mendakwahkannya, semangat berfastabiqul khairat, semangat untuk meraih ridhoNya dan menggapai cintaNya. Ya Rabb...Jangan pernah Kau biarkan api semangat itu padam...amien!
Kuhampiri cermin yang menggantung di dinding kamarku. Di sana, ada seseorang yang tak asing lagi bagiku, namun hampir saja aku melupakannya, hampir saja aku tak mengenalnya. Kuperhatikan dirinya yang juga memerhatikanku. Kutatap ia dan ia pun balas menatapku. Ah, jasad itu, betapa sering aku mendzoliminya. Wajah itu, begitu lama tak kurawat dan kini tampak pucat.
"Kau harus bertanggung jawab karena telah mengabaikan amanah Allah untuk menjaga dan memeliharaku. Kau harus tanggung jawab!" lanjutnya dengan nada ketus. Raut wajahnya memerah. Jelas sekali bahwa dia sedang marah. Padaku? Ah, biar saja!
"Kau juga egois! aku punya kewajiban lain yang harus kutunaikan. Bukan hanya ngurusin kamu!" balasku tak kalah sinis. Huh! aku jadi kesal dibuatnya. Tumben tiba-tiba dia marah?! Padahal, setiap kali ku memandang wajahnya, seulas senyum manis yang selalu kuterima. Semangat dan optimis yang memancar dari dirinya. Tapi, tidak kali ini! Ia betul-betul marah! Matanya melotot seperti ingin menelanku hidup-hidup. Nafasnya naik turun tak beraturan. Dan mulutnya, seolah ingin melumatku habis-habisan!
"Kenapa?! Kau ingin protes?? Silakan." tantangku. Aku semakin jengkel dibuatnya. Wajahku kutekuk dan kepalaku seakan mengeluarkan asap

"Boleh aku bicara?" Tiba-tiba terdengar suara lain yang ikut dalam pertengkaran kami. Sayangnya, suara ketiga ini bukan malah membelaku, tapi justru membuat posisiku semakin terpojok.
"Aku juga ingin protes. Lihatlah aku, begitu kering dan ringkih. Akhir-akhir ini kau jarang menyiramnya dengan amalan yaumiyah. Tilawah, kau kurangi jatahnya. Qiyamullail udah jarang, karena kau lebih sering melembur sampai larut malam, dengan alasan ngerjain proposal lah, tugas kuliah lah. Ma'tsurat, kau bilang gak sempat. Alasanmu, sibuk syuting (syuro penting) yang terkadang bisa lima kali dalam sehari (melebihi jatah minum obat tuh!). Dzikkir pun cuma sisa-sisa waktu. Lalu mana jatah mengisi bateraiku? 'Kencan pekanan' saja tidak cukup bagiku! Kapan kau luangkan waktumu untukku?"
"Oh Rabb...Aku seperti terhempas ke dasar jurang yang terjal dan curam. Hatiku serasa tertusuk sebilah belati tajam. Ya Allah...ampuni hamba...Jasad telah terdzolimi. Ruhiyah ini juga! Aku telah merampas hak-hak mereka! Hamba telah berdosa..." batinku bergejolak.
Tubuhku lunglai, lemas, tak berdaya. Hujan di mataku begitu derasnya. Saat ini aku hanya ingin menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba datang suara lain yang tak kukenal,
"Kau begitu lemah! Rapuh! Di balik kobaran semangatmu, ternyata kau sangat keropos! kau lelah kan? Kau jenuh kan? Sudah...akhiri saja semua! copot gelarmu sebagai aktivis dakwah. Toh, masih banyak temanmu yang akan memperjuangkan ajaran Tuhanmu itu! kau bukan malaikat! Kau hanya manusia lemah berlagak kuat. Kapasitasmu sangat terbatas! Jangan sok tangguh gitu deeh...Sudahlah...lepas saja amanah-amanah dakwahmu itu! Bukankah ada amanah ortu untuk belajar dan lulus kuliah tepat waktu? Tidak inginkah kau merasakan hidup tenang tanpa beban? Nikmati saja dunia yang sementara ini, mumpung masih muda."
Ya Allah...Suara siapa lagi itu? Kepalaku mendadak pening luar biasa. Pikiranku semakin kacau balau. Semraut! Sulit bagi otakku memilah mana yang benar dan mana yang salah. Aku bingung!
"Sudah...jangan bingung. Begini saja, kalau kau memang tak mau melepas gelar da'imu, mending kau minta cuti saja pada Tuhanmu. Toh, suatu saat nanti, jika keadaanmu sudah pulih, kau bisa kembali berdakwah dan bergabung dengan kawan-kawanmu yang sok suci itu." lanjutnya.
Cuti? apa aku harus cuti dakwah? Aaaarrgghh....kenapa kepalaku semakin pusing. Kupaksa otakku berpikir tanpa memedulikan jeritan nuraniku yang berontak tak setuju.
"Mungkin saja dia benar. Aku memang sangat lelah. Aku jenuh dengan semua masalah yang menyerangku bertubi-tubi. Mungkin inilah puncak kefuturanku. Aku ingin merasakan tidur dengan lelap, sejenak saja! Tanpa beban, tanpa masalah! Ya, aku ingin cuti dakwah!" kata batinku mantap. "Tapi, tunggu dulu! Pantaskah? Layakkah?" sambungku kemudian.

"Pantaskah aku meminta cuti pada Rabbku yang telah mengabulkan setiap do'aku dan memberi segala yang ku mau? Layakkah aku meminta cuti, sementara aku belum mempersembahkan kado terindah untuk dakwah? untuk Allah...Akankah kubiarkan segala yang kuperjuangkan menguap begitu saja? sia-sia? Sungguh, aku belum berbuat apa-apa! aku malu....aku adalah hamba yang tak tahu diri! Tak tau terima kasih! Oh Rabb...betapa rapuhnya diri ini. Baru sedikit ujian saja, aku mengeluh, menyerah, mundur dan ingin gugur!"
"Ya Allah...mengapa sampai terbesit pikiran ingin cuti dari dakwah? Padahal, belum tentu aku masih di dunia ini setelah masa cutiku habis. Siapa yang menjamin usiaku masih panjang?! Bagaimana jika dalam masa cuti, Allah memanggilku dan meminta pertanggungjawabanku?! Bekal apa yang akan kubawa? Lalu bagaimana jika aku terlena dan enggan kembali berdakwah? Astaghfirullah....Alangkah bodohnya aku! Mungkin iya, aku lelah, aku capek, penat, jenuh! Tapi, bukankah itu biasa?! Setiap orang pasti pernah merasakannya. Iman kan yaziidu wa yankus, kadang naik kadang juga turun. Mungkin inilah saatnya ia turun, bahkan mungkin sampai pada titik kulminasinya. Akibatnya, ruhiyahkiu gersang, jasadku letih. Wajar saja jika mereka protes. Akulah yang salah karena kurang bisa memanaj waktu. Akhirnya, jadi tidak tawazun dan berbuntut pada kefuturan yang teramat sangat. Tapi, ketika itu terjadi, hal pertama yang harus kulakukan adalah berusaha untuk bangkit kembali! Berbenah diri, menata hati, meluruskan niat, dan mencoba memungut kembali segala amal yang berserakan untuk kemudian kuperjuangkan! Sungguh, kereta dakwah ini akan terus melaju, meski tanpaku. Masih banyak generasi tangguh yang militansinya jauh lebih dahsyat dariku yang akan melesat bersamanya. Roda dakwah akan terus berputar meski aku keluar dari orbitnya. Takkan berkurang kemuliaan Dien ini meski aku mundur dari memeperjuangkannya. Dan jika semua itu benar-benar terjadi padaku (jatuh, mundur, dan gugur), maka akulah satu-satunya yang akan merugi! akulah yang rugi! Na'udzubillah...."

"Cukup sudah! saatnya kulemparkan jauh-jauh pikiran "aneh" yang sempat mampir di otakku. Cuti dakwah? Ah! tak ada istilah itu dalam kamus perjuanganku. Tak akan ada lagi bagian dari diriku yang kudzolimi. Sekuat tenaga akan kucoba untuk menyeimbangkannya (tawazun) dan memenuhi hak-haknya, tanpa mengabaikan kewajiban-kewajiban yang lain. Ini tekadku! Semoga Allah tetap setia membimbing dan menuntun langkahku..."

Kututup gejolak jiwaku, dengan sebuah do'a,
"Yaa Muqoolibal Quluub, Tsabbit Quluubana 'Alaa Diinika..."

Kubuka inbox HPku dan kubaca kembali pesan cinta dari saudaraku di jalan Allah beberapa waktu lalu,

Ada yang mengeluh,
merasa jenuh,
ingin gugur,
dan jatuh.
Ia berkata, "LELAH...!"
Ada juga yang lelah,
tubuhnya penat,
tapi semangatnya kuat.
Ia berkata, "LILLAH...!"
karena Allah,
ikhlaslah...

Cess..! Embun syurga seakan berjatuhan dan membasahi jiwaku yang kerontang...
"Maka, berlelah-lelahlah sekarang, bersakit-sakitlah saat ini, karena kenikmatan yang abadi InsyaAllah kan kita rasakan di jannahNya nanti..."


NB: Alhamdulillah...lelahku seketika lenyap seiring selesainya tulisan ini. Terimakasih kepada Allah 'Azza wa Jalla yang senantiasa mengingatkan kedho'ifanku sebagai hamba. Allah, aku semakin cinta...Segala puji hanya bagiMu...

Kamis, 10 Desember 2009

NANTIKANKU DI BATAS WAKTU


Ehem…
dari judulnya, temen-temen pasti dah tau apa yang akan kita bahas di postingan kali ini. Ahay! Yes. Anda benar sodaraku. Yang jelas kita gak lagi ngebahas nasyidnya edcoustic yang judulnya sama persis dengan judul postingan saya di atas (maap kakak-kakak Edcoustic, saya tidak bermaksud njiplak atau memplagiat. Saya hanya berusaha menjadi fans-mu yang baik dengan mempromosikan judul nasyidmu ke seantero pelosok dunia maya. Itu saja). Postingan kali ini juga bukan bicarain pergantian status single seseorang… ehem, maaf, maksud saya jangan berpikiran yang baik-baik dululah, takut kecewa. Kenapa? Karena postingan kali ini sengaja dibikin rada provokasi dikit biar pada buka. Hihi…
Ehem…(dari tadi ehem ehem mulu). Iya nih, ada biji kedondong nyangkut di kerongkongan.. (maap, saya bohong)
Oke, tanpa banyak pemanasan, langsung saja kita tuju inti permasalahan
*serius mode ON*
Pernah denger lirik lagunya om thufail yang ini gak?
*Siap-siap ngerapp*
Bicara soal zionis dan dakwah atas nama gerakan reformis
Perhatikan kelakar para aktivis mulai prejudis, ironis, opportunis
Pakai bendera Palestina dimana-mana
Bicara Jihad Fi Sabilillah
Tapi disuruh nikah malah nawar ukhti dibatas waktu kuliah
Akhwat kok di order ( emangnya mikrolet )
Nggak usah ngomong jihadlah, jihad yang aduhai aja nggak berani
Gimana mau bicara jihad kayak di Palestina
Ya tapi akhirnya ada juga yang berani walimah
Tapi ya gitu lah ngaji pulang ngaji pulang habis walimah hilang
Bentar ya, saya mau ketawa dulu (hehehe….udah). Habisnya, lucu siih….
Lirik di atas adalah penggalan dari lagunya Bang Thufail yang “Democrazy”. Keren banget lah pokoknya! Jangan lupa beli albumnya ya! Atau donlot aja di MPnya bang Thufail (loh, ini niat mo promosiin lagunya edcoustic apa bang thufail sih?) Maaf, saya terbawa suasana. Oke, lanjut…
Perhatikan lirik di atas. Sengaja ada yang saya pertebal di situ. Yup! “nawar ukhti di batas waktu kuliah”. Mirip sekali dengan liriknya kak edcoustic yang “Nantikanku di batas waktu”. Kesamaannya terletak pada kata di batas waktu. Sekali lagi, DI BATAS WAKTU. Ada apa dengan di batas waktu? Ada yang menantiku sepertinya… (hehe…nggak ding, bercando)
Nah, sekarang kita akan ngebahas about: romantika nantikanku di batas waktu yang diperankan oleh mbak-mbak dan mas-mas yang udah kuliah (bukan ngegosip loh ya…). Hmm….Tema yang cucok banget buat anak muda kayak saya (saya muda looh….), buat pengalaman….*nyengir keledai*
Apa yang nyebabin kalimat itu (nantikanku di batas waktu) terlontar dari mbak-mbak dan mas-mas yang pengen menggenapkan separuh dien? Kemunkinannya cuma 1, BELUM SIAP! Nah, soal belum siap ini, macem-macem deh alesannya. Di antaranya,
1. Gak dibolehin ortu. “Mbok ya lulus duluu…” (berlaku buat mbak2 dan mas2)
2. Restu udah dapet, tapi maisyah belum punya. “Mau dikasih makan apa istriku?” (yang mas2nya)
3. Restu dan maisyah udah dapet, tapi susah bagi waktu antara Nikah, Kerja, Kuliah dan Amanah dakwah. “Ntar malah gak tawazun….” (buat mbak2 dan mas2)
4. Ada yang mo nambahin? (mungkin pengalaman pribadi)
Hemph…Mbak, Mas…saya turut prihatin. Mungkin salah satu alesan di atas bakal saya alamin suatu ketika…. *menerawang*
Dhoorrr!! Nggak boleh ngelamun!
Okeh, take it easy guys! Nggak papa. Jalani hidup ini apa adanya. Percaya deh, Alloh pasti punya rencana yang luar biasa…
Sebagai wujud keprihatinan saya, berikut akan saya sajikan tips memasak capcay (nggak nyambung? Lanjut…) TIPS JITU SAMBIL MENUNGGU DI BATAS WAKTU. Ahay! Siapkan dirimu….

1. Kerenkan dirimu dengan nambah ilmu
Buat persiapan menuju ke sana (pelaminan), tentunya kita kudu punya ilmunya dwong. Bisa baca2 buku pernikahan atau dateng ke dauroh munakahat. Kalo ini ternyata semakin membuatmu ngebet nikah (padahal lulusnya masih lama), mending baca2 buku matakuliah atau buku2 motivasi (bukan motivasi nikah loh), novel, artikel ilmiah, koran, majalah, apa aja deh….tapi hindari dulu yang berbau “merah jambu”, ntar malah semakin membuatmu menggebu-gebu. Kenapa? protes? enggak setuju? enggak mau? putus aja deh kalo gitu… (loh?)
2. Tetep jaga hijabmu
kalo mas ikhwan sudah mengetek (bahasa apaan nih?), kamsudnya ngincer mbak akhwat dan sudah diketahui oleh mbak akhwat, maka putuskan hubungan apapun dengannya. Ucapkan: “jangan ada –interaksi- di antara kita”. Cut cut cut !!! Tapi, cara ini bisa menimbulkan efek “penyakit hati” karena pikiran selalu tertuju padanya. So, waspadalah..waspadalah…tips berikutnya mungkin bisa lebih membantu Anda.

3. Sok sibuk
Banyak kan yang bisa dilakukan di kampus. Apalagi kalo mbak2 dan mas2 ini aktivis dakwah. Wiih, sibuk banget dah! Mulai dari ngurus LDK, ngisi mentoring, dateng ke kajian, jadi panitia acara kegiatan LDK (bukan panitia walimah loh ya, ntar malah tambah ngebet nikah. Hehe), atau… apapun lah! Yang penting sibuk! Bisa nulis buku, ngeMPi, nyari kerja buat biaya walimah, atau riwa-riwi ngukur jalan (siapa tau dapet rekor MURI). Asal, jangan sok sibuk seperti contoh kasus di bawah ini:
Anda: (sibuk)
Someone: Eeeeh…ngapain kamu angkat-angkat itu???
Anda: Enggak liat apa kalo saya sibuk? saya ini sibuk..sibuk..S-I-B-U-K! Busy! ngerti ndak sih?
Someone: TAPI ITU JEMURAN SAYA!
Anda: ……
Warga: (Gebugin Anda rame-rame)
Oke. S-I-B-U-K. Agar tak ada waktu untuk mikirin si dia yang belum menjadi siapa-siapa.

4. Shoum…shoum…shoum…
Nggak perlu dijelasin deh. Dah pada bisa puasa kok. Kan dah gede…

5. Perbanyak dzikir dan ibadah.
Dengan lebih mendekat padaNya, siapa tau Alloh memudahkan jalan kita menuju ke sana. Yang awalnya ortu nggak setuju, tiba-tiba memberi restu. Yang nggak punya maisyah, tiba-tiba dapet lowongan kerja. Yang nggak bisa bagi waktu, ternyata….ya bisa bagi waktulah. Kan udah ada ‘si dia’ yang siap membantu segalanya…(ciye ciyeeh..)

6. FOKUS!!
Nah, ini dia nieh. Kalo kendalanya itu lulus kuliah, ya segera diselesaikan atuuh kuliahnya. FOKUS ngerjain skripsi. Biar ndang mari, ndang lulus, ndang wisuda, ndang nikah..dan ndang ndang sing lainnya…(NB: ndang itu bahasa jawa yang artinya cepet atau segera)
Oke. Segitu dulu deh tips dari saya. Kalo kebanyakan tips ntar malah bikin pusing tujuh keliling. Semoga bermanfaat, dan semoga Alloh memudahkan niat baik kita untuk melaksanakan sunnah RosulNya…Kita? Maksudnya, mbak2 dan mas2 yang ingin menggenapkan separuh diennya (saya juga nantinya. Hehe). Agar kalimat “Nantikanku di batas waktu” tak lagi mengusik hati yang kian merindu…(tsaahh)
Wis, begitu mawon
Ngapunten jiddan nggih…
Salam pramuka! Eh, salam JIHAD!!
Allohu Akbar!!!
NB lagi: fotonya sengaja saya pilihkan yang itu buat ngomporin mba2 dan mas2nya. eheuy!
-akhwatzone-

Selasa, 27 Oktober 2009

Fasbiru..

BismiLLAAH assholatu wa sallam ‘ala rasuliLLAAH
Semoga Allah senantiasa melimpahkan barakahnya atas kita. Kita telah bertemu dan bersama di dunia ini, di atas jalan-NYA. Allah lah yang telah menuntun kita sampai di sini. Kita telah bersatu dan berjalan di atas niat mencari keridhaan-NYA. Allah lah yang patut dipuji atas semua karunia kebersamaan ini. Meski kita merasakan lika-liku keberasmaan ini juga tidak pernah sepi dari noda dan kekeliruan, namun kiata masing-masing perlu mengatakan “ innaLLAAHa ma'ana ”.
Al Ahzab 9-11:
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.”
Ayat di atas menceritakan keadaan sebuah peperangan Ahzab yang hendak dihadapi oleh kaum muslimin dengan kaum kafir. Allah menceritakan kepada kita, bahwa pada saat itu kaum kafir datang dari segala penjuru, dari atas dan dari bawah sedemikian banyaknya sehingga timbul rasa takut dalam diri sebagian kaum muslimin. Bahkan sedemikian hebatnya rasa takut itu sehingga Allah menggambarkan bahwa pada saat itu kaum muslimin hatinya seakan-akan naik menyesak sampai ke tenggorokan, dalam kelanjutan ayat itu disebutkan bahwa Allah hendak menguji keimanan kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin berprasangka yang baik kepada Allah dan tetap teguh keimanan mereka. Namun sebagian lainnya goyah dan berprasangka buruk terhadap Allah.
Sahabatku…..
Marilah kita tengok kedalam diri kita. Pernahkah kita mengalami kondisi yang sama? Pernahkah kita mengalami keadaan dalam hari-hari kita dimana kita dihadapkan kepada suatu permasalahan yang begitu besarnya (menurut kita) sehingga kita takut, gelisah dan berprasangka yang buruk kepada Allah? Pernahkah kita mengalami suatu permasalahan yang mana kita merasa bahwa kita ditinggalkan oleh-Nya?
Jika pernah, yakinlah sahabatku, bahwa kita sedang diuji oleh Allah. Allah menguji sejauh mana keimanan kita. Sejauh mana keyakinan kita kepada Allah yang Maha Pelindung. Sejauh mana kepasrahan kita sebagai hamba kepada Allah Sang Pencipta.
Sahabatku……
Yakinlah bahwa satu kesusahan diapit oleh dua kemudahan. Yakinlah bahwa sesudah kesusahan insyaAllah pasti ada kemudahan. Berprasangka baiklah kepada Allah, karena Dialah yang Maha Mengetahui seluk beluk diri hamba-hamba-Nya. Dan yakinlah bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang tidak akan pernah mendzhalimi hamba-hamba-Nya. Setiap ujian dan cobaan yang menghadapi diri kita dan kita ikhlas serta sabar menjalaninya maka Allah berjanji akan membalasnya dengan sesuatu yang teramat baik yang belum pernah kita menjumpainya atau bahkan belum pernah terbesit sedikitpun kebaikan itu dalam pikiran kita. Oleh karena itu sahabat, selamat menerima dan menjalani jamuan Allah yaitu cobaan dan ujian hidup……"

Jumat, 23 Oktober 2009

Hikmah yg dapat Ynn petik dari KKN-PPL

1. Menjaga keistiqomahan memang luar biasa..tidak diukur berapa lama kita sdh berada dlm jamaah ini..tp hanya keteguhan hati pemiliknya dan rasa takut semata-mata kepada Allah lah kunci dr mempertahankan iman..Hati-hatilah dalam melangkah sahabat..Jaga Hati untuk terus berpegang teguh di jalan Allah..pertahankan hidayah yg Allah berikan..
2. Semua peristiwa yang menimpa kita..itu semua adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umatNya..segera bangkit dari keterpurukkan..ujian itu datang untuk meningkatkan tingkat keimanan kita apakah kita lulus ke level selanjutnya apakah akan tinggal kelas??
3. Sangat bersyukur ynn berada di jalan ini diantara orang-orang hebat sholeh dan sholehah...semoga bs terus berada di jalan ini di jamaah ini hingga akhir khayat..Amin..Disini ynn menemukan kendaraan yang terbaik Bagi ynn untuk meraih ridho dan cintaMu Ya Allah..
4. Lebih mempersiapkan diri lagi...terutama untuk pasca kampus..kita tidak sendiri Allah ma`ana..Allah pasti membukakan jalan kita untuk mendakwahi mereka..dan hanya Allah lah yg Membolak-balikkan hati umatNya..
5. Dakwah ini penuh onak dan duri...tapi tidak akan ada kata menyerah...ketika kita akan mengajak dalam kebaikkan memang lebih efektif jika dilakukan dengan berjamaah dari pada sendirian...dan ingat bukan dakwah yg membutuhkan kita tapi kita yg membutuhkan dakwah itu...
6. Semakin memantapkan hati bahwa Guru adalah profesi yang sangat mulia...Alhamdulillah..mudah-mudahan sebagai guru matematika bisa ynn jadikan jalan menuju rahmatMu...Jadilah pendidik, murobbi yang Muntijah..amin
7. Belajar saling memaafkan...maafkan ynn teman-teman kalo sdh dzolim
8. Jadikan semua ini tarbiyah buat kita.....

Memories of Sedayu

Bismillahirrahmanirrahim....
Ynn mencoba bertahan di tempat itu..semua asing dan baru bagi ynn..mungkin ini bisa dijadikan tarbiyah bagi ynn sebelum nantinya benar2 menginjakkan kaki di kehidupan yg sesungguhnya..di luar sana..kata orang dunia luar kampus sangat kejam??Betulkah?
Sendiri..itu yg ynn rasakan sampai bulan ke tiga sekalipun.. yg selama ini selalu bersama sahabat,sodara-sodara satu visi dan misi..dalam naungan kasih sayang dan cinta yg tanpa pamrih mengharapkan balasan apapun selain karenyaNya..tapi disana beda..sangat beda!!
Dan terbuktilah ynn tidaklah sekuat teman2 yg lain yg sama2 berjuang di tempat lain..lebih dari berkali-kali ynn terbawa arus..arus yg berlawanan arah..arus itu membawa diri ini untuk merasakan kenikmatan yg sangat semu...tersiksa..jauh..sampai akhirnya....
Allah..Allah..Allah..begitu sayang dan cinta pada hambaNya..Engkau tak luput jg untuk mengingatkan ku ..berbagai peristiwa datang silih berganti datang untuk sekedar menyadarkan ynn..tp saat itu rasa penyesalan hanya sementara..satu kata yg ada di benak ynn pd saat itu..segera lari menyelamatkan diri..tapi belum saatnya..hari begitu lambat..1 detik ibarat 1 menit..1 menit ibarat 1jam..1 jam ibarat 1 hari..hingga 3 bulan ibarat berabad-abad...
Ternyata ynn lemah dan tak sekuat yang lain....
Hingga akhirnya..3 bulan yg dinanti itu tiba jg..rasanya tak bisa diungkapkan...disaat teman yg lain menangis sedih karena berpisah..tidak dengan ynn..kalau boleh teriak sekeras..kerasnya..melompat setinggi-tingginya..;) YNN BEBBASSSSS!!!
Alhamdulillah wa syukurillah....ynn kembali di dunia yg nyaman,indah,tentram,sakinah,mawaddah..hehe berlebihan ya?? bersama saudara-saudara tercinta...dalam naungan cinta Allah Azza wa Jalla...
Banyak sekali hikmah yang dapat di petik...tapi tunggu kelanjutannya nggih...;)

Selasa, 08 September 2009

Muhasabah Gempa di bulan Ramadhan

AllohuAKbar!

Ya ALLAH Engkau telah goncangkan belahan bumiMu di Jawa bagian barat sebagai pusatnya, serta Jakarta, Jateng, DIY juga merasakan goncangan itu.
Bagi kami 7,3 SR adalah goncangan yang sangat besar, namun bagiMu mungkin hanya goyangan kecil dan teramat mudah untuk Engkau lakukan, atas segala kebesaranMu Ya Rabb...

Semua orang panik
Semua orang berbondong-bondong menyelamatkan diri, lari pontang-panting.
Semuanya mencari tempat aman, karena itulah gerak reflek seorang manusia ketika terancam bahaya..
Astaghfirullohu...
Semua orang mengingat kebesaranMu., Ya Mutakabbir..

Namun... kami lalai..
Kami lalai ya ALLAH...
Terkadang, bahkan sering hati kami bergoncang bahkan goncangan yang terjadi sangat besar sehingga menjauhkan hati ini dari mengingatMU.
Goncangan atas nafsu duniawi, atau maksiyat yang menutupi hati ini
Astaghfirulloh..
Tapi apa?
Kami tidak merasa terancam sama sekali. Tidak segera menyelamatkan diri.
Kemanakah hati ini? Apakah ia sudah mati?
Astaghfirulloh...

YA ALLAH kami lalai...
Kami sangat hina..
Kembali Engkau mengingatkan kami..
Berapa banyak nikmat yang Engkau beri kepada kami?
Tapi kami lalai untuk mensyukurinya..
Astaghfirulloh..
Ampuni kami ya Rabb, Ya Ghofar,

Ya Shobur..
Berilah kesabaran kepada saudara-saudara kami yang rumah dan harta bendanya telah musnah...atau mereka yang kehilangan anggota keluarganya. semoga ada ganti yang lebih baik lagi

Ya Muhyi.. Ya Mumiit..
Engkaulah yang menghidupkan dan mematikan kami.. kami berpasrah padaMU. Ijinkanlah kami bisa khusnul khotimah ketika Engkau memanggil kami.

Ya Mujiib...
Penuhilah permintaan kami.

Aamiin..

Rabu, 26 Agustus 2009

Aku, Ukhtee Tangguh! (Aaaamiin!)


…da'wah ini memang wilayah orang-orang serius, penuh tekad dan sabar

-Anis Matta-

Berulang kali keluhan “aku lelah dan jenuh” terlontar dari mulutku.

Berulang kali pula perasaan "aku lemah dan rapuh” menelusup ke rongga-rongga jiwaku.

Hingga muncullah bayang-bayang “aku ingin gugur dan jatuh” mengintai setiap langkahku.

Namun, ketika bisikan-bisikan itu membelenggu, segera kuyakinkan bahwa aku, Ukhtee Tangguh! Nama itu adalah motivasi yang membuatku bersemangat mengambil peran kebaikan. Ia lebih dari sekadar do’a dan pengharapan. Nama itu bagai api yang membakar ghiroh juangku! Ghiroh memperdalam ilmu dan mempertajam komitmen! Takkan kubiarkan api ghiroh itu meredup apalagi mati! Yang ada hanyalah militansi! Ya, MILITANSI!

Yang kupahami, militansi adalah ketegaran seseorang dalam berbagai kondisi. Yang kutahu, militansi adalah semangat mengerjakan segala amal kebaikan. Suka atau tidak suka! Apapun bentuknya! Yang kumengerti, militansi adalah bersegera menyambut (merespon) panggilan Allah dengan ghiroh yang tinggi. Kapanpun! Di manapun! Meski hujan deras jatuh dari langit, meski panas matahari membakar kulit. Militansi tak akan tumbuh dalam jiwa-jiwa kerontang ataupun ruhiyah yang keropos. Militansi yang hadir dalam bentuk semangat yang menggelora hanya akan tumbuh jika keimanan membaja dalam dirinya. Militansi akan semakin kuat jika keyakinannya kuat! Yakin akan kebenaran yang dibawanya dan yakin akan balasan yang akan diterimanya (kelak, di sisi Allah ‘Azza Wa Jalla).

“Wahai orang-orang beriman, segeralah merespons dengan cepat kepada Allah dan RasulNya ketika dia memanggil kamu” (Al-Anfal: 24).

Wahai diri,

Rebutlah momentum-momentum kebaikan yang tersaji di hadapanmu!

Nikmati hidangan-hidangan kebaikan itu dengan gairah dan semangat yang meluap-luap!

Lahap makanan kebaikan itu seperti orang yang sedang kelaparan karena sudah berhari-hari tidak makan. Hingga kau menjadi orang yang rakus akan amal dan haus akan ilmu!

Jadikan hari-harimu fokus pada peningkatan kualitas (iman, ilmu, amal, tarbiyah, da'wah dan jihad) dengan bermodal pemahaman yang shohih dan semangat konsistensi (istiqomah). Lalu, IKHLASLAH....

“Teguh adalah napas rijalul haq (pejuang kebenaran) sepanjang zaman. Mereka tak hanyut di air, tak hangus di api, tak melayang di angin, tak goyah oleh tumpukan harta, kemilau tahta, dan rayuan wanita. Kiprah mereka hanya satu: TETAP TEGUH DALAM BERGERAK DAN TERUS BERGERAK DALAM KETEGUHAN.” (Ust. Rahmat Abdullah)

Be Strong, Yaa Ukhtee Tangguh!

NB: Buat orang-orang LUAR BIASA yang telah menjadikanku BIASA, aku akan terus belajar untuk mengalahkanmu! Hingga aku bisa menjadi yang terbaik, di hadapan TUHANKU!

Saudaraku, mari kita berlomba…!!

Yaa Qowiy, Yaa ‘Aziiz…
beri hamba kekuatan untuk menjadi prajuritMu yang tangguh!

LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH……..