Senin, 31 Januari 2011

Misteri Rezeki


Map biru tebal kini sudah ada ditanganku, selama empat tahun dengan berbagai lika liku yang menyertainya barulah aku diijinkan untuk menyentuhnya menggenggamnya bahkan memeluknya. Hari itu kampusku melulusakan ribuan sarjana,sudah menjadi harapan semua orang termasuk aku dan kedua orang tuaku pastinya dengan bebekal ijazah tersebut, kami dapat sesegera mungkin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmu kami dan dengan penghasilan yang tinggi tentunya.

Jadi teringat akan gurauan beberapa teman, "Jangan mau lulus cepet, itu berarti kamu bakal cepet jadi pengangguran.."
"Ah...setidaknya kalo sudah lulus ada perasaan lega, satu fase sudah terselesaikan, tinggal mempersiapkan untuk menghadapi fase selanjutnya..", pikirku.
Ada lagi pendapat temanku yang lain, "Masih ada tanggungan, kalo semua lulus siapa yang akan ngurusi kampus? Malu je keluar dari kampus belum menghasilkan sesuatu.."
Hmm...Sifat manusia memang terus merasa kekurangan..Dia hanya melihat apa yang tidak ada, dia hanya melihat apa yang kurang, tanpa melihat sebenarnya dia sudah memiliki banyak hal. Begitu pula dengan 'kontribusi' yang dia berikan. Kan ada regenarasi, pengkaderanya bagaimana? Jangan jadikan amanah dakwah sebagai legitimasi untuk menghambat tidak lulus tepat pada waktunya. Yakinlah ini semata karena ada masalah pada menejemen diri kita..

Lho koq malah jadi mbahas masalah ini..? Kembali ke pokok topik kita yaitu masalah "Rezeki.."
Berbekal ijazah aku mulai membuat surat lamaran pekerjaan..Sudah aku siapkan sekitar sepuluh lamaran yang siap didistribusikan..:)..Dari pagi hari hingga siang, dari satu sekolah ke sekolah lainnya baik negeri maupun swasta, motor matic ku setia menemani.

Syukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepadaku, jujur ketika mahasiswa orang tua hanya menuntutku untuk kuliah yang benar dan lulus dengan hasil yang memuaskan,cukup tanpa dipusingkan dengan perkara biaya apapun. Tetapi kini, aku merasakannya sendiri bagaimana mencari maisyah tidak segampang yang aku pikirkan dulu.

Salah satu penngalaman yang aku alami, ini nyata keluar dari seorang guru di salah satu SMP Negeri di kotaku, "Jaman sekarang sulit mba, kalau tidak punya koneksi."
"Koneksi macam apa?", pikirku.
"Mba harus membangun hubungan yang baik dengan Kepala Sekolah atau minimal Wakasek misalnya, atau perlu saya bantu?" itulah ucapan seorang bapak guru kepadaku ketika aku mencoba memasukkan lamaran ke sekolah tersebut.
"Saya takut Mba akan putus asa jika memang hanya bermodalkan lamaran seperti ini dari sekolah satu ke sekolah lainnya." jelas Bapak itu lagi.

Saya bisa nangkep apa yang dimaksud guru tersebut. Sedih, miris mendengarnya. Untuk menjadi guru honorer harus melalui jalan yang tidak halal..astaghfirulloh..!
Jadi teringat cerita kakak kandungku di sebuah Rumah Sakit, seseorang perlu membayar sepuluh juta rupiah untuk menjadi cleaning service di Rumah Sakit tersebut. MasyaAlloh. Bagaimana dengan profesi lainnya, seperti polisi misalnya??

Sebuah teka-teki kehidupan, banyak orang menghalalkan segala cara hanya karena ingin mencapai apa yang dia inginkan seperti masalah pekerjaan misalnya. Bagaimana pekerjaan itu akan mendapat keberkahan dari Alloh jika diawali dengan sesuatu yang tidak halal?

Hidup ini episodik, aku yakin sekali beruas-ruas seperti batang bambu, tidak lurus mulus seperti tiang listrik yang berada di depan rumahku. Ruas-ruas tersebut dipenuhi dengan pergiliran kehidupan antara kesempitan dan kelapangan. Aku meyakini hal ini, karena Allah menyebutkannya dalam sepotong ayat dalam QS. Al-Insyirah 5 – 6 … faa innama’al usri yusraan, innama’al usri yusraan ... sebuah kalimat yang sama diulang dua kali berturut-turut. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan ada kemudahan.

Dua bulan aku menanti lamaranku mendapat respon, tetapi ternyata belum juga teleponku berdering atau pun ada sms yang mengabarkan kabar gembira kepadaku.
Hingga pada akhirnya di suatu acara aku bertemu dengan seseorang, kami saling berkenalan..Alhamdulillah rencana Allah memang indah, ternyata Alloh menjawab doaku.Aku mendapat tawaran sebagai guru kelas di sebuah SD Islam Terpadu Alam, awalnya aku pun ragu bagaimanpun spesifikasi keilmuanku adalah menjadi guru mapel matematika di SMP, SMA maupun SMK. Bisa ditebak kedua orang tuaku pun tidak mendukung pada saat itu, mungkin dengan pertimbangan berapa gaji yang akan aku peroleh sebagai seorang guru di SDIT yang baru 3 tahun berdiri.

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Az Zukhruf : 32)

Bahwa Allah-lah yang mengatur pembagian rezeki kepada hambanya, Allah-lah yang mengatur penghidupan kita (ma'isyah kita) bukan orang lain, bukan pelanggan, bukan pimpinan perusahaan dan bukan diri kita, tapi Allah-lah yang menentukan seberapa banyak rezeki kita hari ini dan esok.

Kita tidak pernah tahu takdir kita sebelum takdir itu terjadi, oleh karena itu tetaplah berusaha bekerja sungguh-sungguh dan banyak beramal kebaikan untuk menyambut takdir kita, karena kita akan dipermudah menuju takdir kita.

Kalau sekarang kita sedang dalam kesulitan dan kesusahan, jangan bersedih, sebab pada saatnya nanti kita akan diberikan kegembiraan. Mungkin 1 tahun atau mungkin 3 tahun lagi, kita bisa bercerita pada orang lain bagaimana kita bisa bertahan dan menasihati mereka cara menyelesaikan masalah serupa itu. Karena hidup ini adalah pergiliran, seperti yang aku katakan bahwa hidup kita seperti ruas-ruas bambu, sudah selayaknya bila kita tidak pernah lupa untuk bersyukur pada tiap jengkal rizki Allah.

Semoga ini mampu menjadi pengingat bagiku dan sahabat-sahabat sekalian untuk terus bersyukur atas segala nikmat yang Alloh berikan kepada kita.

Senin, 24 Januari 2011

Babak Baru Bagiku


Tiga bulan sudah kembali aku menempati kamar yang selama 4 tahun aku tinggal..dulu tembok itu penuh terisi pigura foto narsis bersama sahabat dan keluarga..satu per satu foto itu sudah kuturunkan..kuganti dengan rak berisi buku-buku oleh-oleh dari perantauanku mencari ilmu selama 4 tahun di Yogyakarta.

Bulan pertama..belum genap sepekan kondisi fisikku drop..awal cuma panas..setelah 2 hari baru turun gantian perutku tersa keram dan sakit.Hasil USG mengatakan banyak sekali pembengkakan di hati dan empedu. Ternyata Allah sedang memberi nikmat begitu besar kepadaku. Dari rumah sakit daerah tempatku tinggal aku dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Alhamdulillah satu bulan setelah dirawat aku diijinkan pulang.

Bulan kedua..aku mulai beraktifitas dengan lingkungan dan sahabat baru. Berbekal surat dari jogja akhirnya aku dapat merasakan kembali indahnya lingkaran cinta bersama keluarga baruku. Kesan pertama yang tak mungkin terlupakan, suara anak kecil kini mengikuti majelis ilmu kami dari mulai tawa bahkan tangisan...lucu. satu hal yang membuat aku terkesan..semangat mereka dalam mencari ilmu, jauh-jauh datang kadang hujan, dengan mengendarai motor sendiri bahkan sambil memangku anak didepan maupun di belakang. maklumlah para ummi itu beberapa blm memiliki khodimat.tetapi ruh dan semangat mereka begitu terasa dan semoga cepat menular padaku..(semangat mencari ilmu dan semangat berdakwah tentunya..:))..malu kiranya jika raga ini loyo ,malas-malasan sedangkan secara fisik aku lebih muda dr mereka..

Bulan ketiga..hmm..hidupku mulai berwarna...inilah babak baruku di kota ini, aku sedang belajar menjadi fasilitator bagi masyarakat..InsyaAlloh masih dengan sejuta azzam tuk berani berikhtiar karena Allah,Rasul,dan Jihad..

Dakwah, penuh cerita ,cerita tentang jundi-jundinya yang dengan semangat terus bergerak menembus batas. Cerita tentang segala asa, langkah, impian, semuanya......., cerita tentang pahit, getir, bahagia, kejutan, ya........semuanya.
Semoga kita senantiasa diberi keistiqomahan untuk terus membumikan syariat Islam dan menjadi Khoirul Labinah dalam dakwah.

Wallahu'alam bish showab

PAST TENSE


Galau, lagi. Mungkin memang harusnya aku tidak usah menengoknya lagi. Teruskan saja hidup, toh yang lalu tak kan kembali. Memandang lurus ke depan, di mana kehidupanku selanjutnya telah ditata rapi. Pergi menjemput apa-apa yang telah disiapkan-Nya untukku. Tak perlu repot-repot memusingkan yang di belakang. Biarkan saja ia menguntit, asal tidak mengganggu. Begitu kan? Tapi namanya juga manusia, tetap ada masa jedanya. Berhenti, lalu menoleh. Mencari-cari, apa-apa yang telah dilewatinya selama ini. Mengorek cerita dari buku berjudul “Kenangan Masa Lalu”. Hmm… Kadang memang perlu, biar kita tidak mengulang kesalahan di masa lalu. Biar kita semakin dewasa, tidak terus-terusan stuck di tahap itu-itu saja. Tapi ya jangan kelamaan. Jangan kelewatan, lantas lupa kalau yang di depan itu namanya ‘masa depan’. Itu lho, kaca besar di depan mata menunggu untuk dibersihkan. Biar kelihatan jelas jalannya. Jangan terus-terusan ngelirik spion di sebelah kanan. Jangan kayak aku beberapa hari ini……

* * *

Duh Gusti Yang Maha Pengampun.. Hamba mohon ampunan-Mu.. Semoga pemandangan di spion hamba tidak menghalangi hamba untuk terus membersihkan kaca depan..

[masa lalu, sekarang ini kau membuatku semakin gundah saja.. semakin kujauhi semakin teringat.. tolong, biarkan aku berjalan tanpa perlu menggenggam secuil penyesalan tentangmu, ya?]

Selasa, 12 Oktober 2010

Melanjutkan ke fase selanjutnya

Bismillahirahmaanirrohiim..

Alhamdulillah satu tahapan dalam pencapaian cita-cita sudah tertunaikan tepat waktu dengan hasil yang patut disyukuri. Empat tahun bergelut bersama segala macam bentuk kegiatan perkuliahan, bem, tutoriall, kammi, dan formula. Proses selama empat tahun pun terasa pendek. Perputaran waktu itu memang bisa terasa ataupun tidak. Satu hal yang diri ini introspeksi adalah apakah sudah cukup bekal atas ilmu-ilmu yang sudah dipelajari selama empat tahun untuk menuju fase berikutnya...Berharap agar ALLAH selalu membukakan pintu kemurahanNya pada ku untuk bisa memahami ilmu-ilmuNya..
Kembali pulang..kota Purbalingga Perwira..satu tempat kuputuskan untuk menjalani fase selanjutnya..sebuah kota kupilih untuk melanjutkan cita-cita.
Itulah pilihan tempat setelah ikhtiar dan menjatuhkan pilihan padanya.Kota yang kecil, jauh sekali dari hiruk pikuk keramaian yang tidak seperti Yogyakarta.Kan ku dapatkan keramah tamahan kota dan penduduknya..
Nikmati proses yang ada dan bersabarlah... jika tidak, maka yang ada adalah kejemuan dalam menjalaninya.
Semoga selalu ada nikmat Sang Razaq yang bisa aku syukuri dan ada kesempatan untukku bisa menjalani semua ini...
Bersyukur kepada ALLAH atas segala nikmatNya, MasyaALLAH...
Berterimakasih kepada...
MAMA dan PAPA..Semoga bisa menambah kebahagiaan dan kebanggaan, walau belum seberapa dibanding apa yang mama dan papa berikan. semoga SYURGA ALLAH adalah kado terindah buat mereka kelak. Aamiin ya ALLAH..

Kakak2ku..MBA IKA ,MBA DESY dan MAS AGUS
Terima kasih atas doa dan dukungannya..maafkan adik kalian ini yang terus menyusahkan..

Keponakanku AZZAH dan FIZI..
Rajin belajar, kalian harus jadi anak sholeh yang hebat!!

IVY,DINA, NUHA, IDA dan DANIK..sahabat tanpa sebuah keimanan tidak ada artinya..jazakillah ukhti, semoga ukhuwah ini akan terus terjalin hingga kita dipertemukan di syurgaNYa

Lingkaran Cintaku..
Kalian yang membawaku ke daerah yg belum pernah ku lihat keindahannya sebelumnya,yang selalu membuat cemburu kpd nikmat dan indahnya jalan ini. Dan kini aku pun benar-benar jatuh cinta..

Murobbiku..Masih terasa kehangatan itu..saat rangkulan sebagai tanda kepedulian untukku kau hadirkan..jazakillah atas cinta, kesabaran, pengalaman ruhiyah dan ilmu yang diberikan..pastinya tak kan tergantikan.

Teman2 Pend.Math.R.2006, HASKA JMF FMIPA, BEM FMIPA UNY, KAMMI Komsat UNY, BEM REMA UNY, tempat belajar yang luar biasa, terimakasih kawan-kawan.

Malaikat, penduduk langit dan bumi, dan seluruh umat manusia yang mengajarkan kebaikan..

Rabu, 16 Desember 2009

A.K.U I.N.G.I.N C.U.T.I


Kuhempaskan tubuhku di atas kasur sepulang kuliah. Fyuuuh...Capek. Penat. Ditambah panas Jogja yang kian menyengat. Kusadari, tubuhku begitu lemah, mudah capek dan lelah. seringkali ketika bangun dari duduk, mendadak dunia berubah gelap, lalu sekonyong-konyong aku terjatuh. Roboh. Mungkin kurang darah. Entahlah, aku malas periksa. Aaah, aku memang lemah.. Namun, satu yang membuatku tetap bertahan. SEMANGAT! Semangat tholabul 'ilmi, semangat mengamalkannya, semangat mendakwahkannya, semangat berfastabiqul khairat, semangat untuk meraih ridhoNya dan menggapai cintaNya. Ya Rabb...Jangan pernah Kau biarkan api semangat itu padam...amien!
Kuhampiri cermin yang menggantung di dinding kamarku. Di sana, ada seseorang yang tak asing lagi bagiku, namun hampir saja aku melupakannya, hampir saja aku tak mengenalnya. Kuperhatikan dirinya yang juga memerhatikanku. Kutatap ia dan ia pun balas menatapku. Ah, jasad itu, betapa sering aku mendzoliminya. Wajah itu, begitu lama tak kurawat dan kini tampak pucat.
"Kau harus bertanggung jawab karena telah mengabaikan amanah Allah untuk menjaga dan memeliharaku. Kau harus tanggung jawab!" lanjutnya dengan nada ketus. Raut wajahnya memerah. Jelas sekali bahwa dia sedang marah. Padaku? Ah, biar saja!
"Kau juga egois! aku punya kewajiban lain yang harus kutunaikan. Bukan hanya ngurusin kamu!" balasku tak kalah sinis. Huh! aku jadi kesal dibuatnya. Tumben tiba-tiba dia marah?! Padahal, setiap kali ku memandang wajahnya, seulas senyum manis yang selalu kuterima. Semangat dan optimis yang memancar dari dirinya. Tapi, tidak kali ini! Ia betul-betul marah! Matanya melotot seperti ingin menelanku hidup-hidup. Nafasnya naik turun tak beraturan. Dan mulutnya, seolah ingin melumatku habis-habisan!
"Kenapa?! Kau ingin protes?? Silakan." tantangku. Aku semakin jengkel dibuatnya. Wajahku kutekuk dan kepalaku seakan mengeluarkan asap

"Boleh aku bicara?" Tiba-tiba terdengar suara lain yang ikut dalam pertengkaran kami. Sayangnya, suara ketiga ini bukan malah membelaku, tapi justru membuat posisiku semakin terpojok.
"Aku juga ingin protes. Lihatlah aku, begitu kering dan ringkih. Akhir-akhir ini kau jarang menyiramnya dengan amalan yaumiyah. Tilawah, kau kurangi jatahnya. Qiyamullail udah jarang, karena kau lebih sering melembur sampai larut malam, dengan alasan ngerjain proposal lah, tugas kuliah lah. Ma'tsurat, kau bilang gak sempat. Alasanmu, sibuk syuting (syuro penting) yang terkadang bisa lima kali dalam sehari (melebihi jatah minum obat tuh!). Dzikkir pun cuma sisa-sisa waktu. Lalu mana jatah mengisi bateraiku? 'Kencan pekanan' saja tidak cukup bagiku! Kapan kau luangkan waktumu untukku?"
"Oh Rabb...Aku seperti terhempas ke dasar jurang yang terjal dan curam. Hatiku serasa tertusuk sebilah belati tajam. Ya Allah...ampuni hamba...Jasad telah terdzolimi. Ruhiyah ini juga! Aku telah merampas hak-hak mereka! Hamba telah berdosa..." batinku bergejolak.
Tubuhku lunglai, lemas, tak berdaya. Hujan di mataku begitu derasnya. Saat ini aku hanya ingin menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba datang suara lain yang tak kukenal,
"Kau begitu lemah! Rapuh! Di balik kobaran semangatmu, ternyata kau sangat keropos! kau lelah kan? Kau jenuh kan? Sudah...akhiri saja semua! copot gelarmu sebagai aktivis dakwah. Toh, masih banyak temanmu yang akan memperjuangkan ajaran Tuhanmu itu! kau bukan malaikat! Kau hanya manusia lemah berlagak kuat. Kapasitasmu sangat terbatas! Jangan sok tangguh gitu deeh...Sudahlah...lepas saja amanah-amanah dakwahmu itu! Bukankah ada amanah ortu untuk belajar dan lulus kuliah tepat waktu? Tidak inginkah kau merasakan hidup tenang tanpa beban? Nikmati saja dunia yang sementara ini, mumpung masih muda."
Ya Allah...Suara siapa lagi itu? Kepalaku mendadak pening luar biasa. Pikiranku semakin kacau balau. Semraut! Sulit bagi otakku memilah mana yang benar dan mana yang salah. Aku bingung!
"Sudah...jangan bingung. Begini saja, kalau kau memang tak mau melepas gelar da'imu, mending kau minta cuti saja pada Tuhanmu. Toh, suatu saat nanti, jika keadaanmu sudah pulih, kau bisa kembali berdakwah dan bergabung dengan kawan-kawanmu yang sok suci itu." lanjutnya.
Cuti? apa aku harus cuti dakwah? Aaaarrgghh....kenapa kepalaku semakin pusing. Kupaksa otakku berpikir tanpa memedulikan jeritan nuraniku yang berontak tak setuju.
"Mungkin saja dia benar. Aku memang sangat lelah. Aku jenuh dengan semua masalah yang menyerangku bertubi-tubi. Mungkin inilah puncak kefuturanku. Aku ingin merasakan tidur dengan lelap, sejenak saja! Tanpa beban, tanpa masalah! Ya, aku ingin cuti dakwah!" kata batinku mantap. "Tapi, tunggu dulu! Pantaskah? Layakkah?" sambungku kemudian.

"Pantaskah aku meminta cuti pada Rabbku yang telah mengabulkan setiap do'aku dan memberi segala yang ku mau? Layakkah aku meminta cuti, sementara aku belum mempersembahkan kado terindah untuk dakwah? untuk Allah...Akankah kubiarkan segala yang kuperjuangkan menguap begitu saja? sia-sia? Sungguh, aku belum berbuat apa-apa! aku malu....aku adalah hamba yang tak tahu diri! Tak tau terima kasih! Oh Rabb...betapa rapuhnya diri ini. Baru sedikit ujian saja, aku mengeluh, menyerah, mundur dan ingin gugur!"
"Ya Allah...mengapa sampai terbesit pikiran ingin cuti dari dakwah? Padahal, belum tentu aku masih di dunia ini setelah masa cutiku habis. Siapa yang menjamin usiaku masih panjang?! Bagaimana jika dalam masa cuti, Allah memanggilku dan meminta pertanggungjawabanku?! Bekal apa yang akan kubawa? Lalu bagaimana jika aku terlena dan enggan kembali berdakwah? Astaghfirullah....Alangkah bodohnya aku! Mungkin iya, aku lelah, aku capek, penat, jenuh! Tapi, bukankah itu biasa?! Setiap orang pasti pernah merasakannya. Iman kan yaziidu wa yankus, kadang naik kadang juga turun. Mungkin inilah saatnya ia turun, bahkan mungkin sampai pada titik kulminasinya. Akibatnya, ruhiyahkiu gersang, jasadku letih. Wajar saja jika mereka protes. Akulah yang salah karena kurang bisa memanaj waktu. Akhirnya, jadi tidak tawazun dan berbuntut pada kefuturan yang teramat sangat. Tapi, ketika itu terjadi, hal pertama yang harus kulakukan adalah berusaha untuk bangkit kembali! Berbenah diri, menata hati, meluruskan niat, dan mencoba memungut kembali segala amal yang berserakan untuk kemudian kuperjuangkan! Sungguh, kereta dakwah ini akan terus melaju, meski tanpaku. Masih banyak generasi tangguh yang militansinya jauh lebih dahsyat dariku yang akan melesat bersamanya. Roda dakwah akan terus berputar meski aku keluar dari orbitnya. Takkan berkurang kemuliaan Dien ini meski aku mundur dari memeperjuangkannya. Dan jika semua itu benar-benar terjadi padaku (jatuh, mundur, dan gugur), maka akulah satu-satunya yang akan merugi! akulah yang rugi! Na'udzubillah...."

"Cukup sudah! saatnya kulemparkan jauh-jauh pikiran "aneh" yang sempat mampir di otakku. Cuti dakwah? Ah! tak ada istilah itu dalam kamus perjuanganku. Tak akan ada lagi bagian dari diriku yang kudzolimi. Sekuat tenaga akan kucoba untuk menyeimbangkannya (tawazun) dan memenuhi hak-haknya, tanpa mengabaikan kewajiban-kewajiban yang lain. Ini tekadku! Semoga Allah tetap setia membimbing dan menuntun langkahku..."

Kututup gejolak jiwaku, dengan sebuah do'a,
"Yaa Muqoolibal Quluub, Tsabbit Quluubana 'Alaa Diinika..."

Kubuka inbox HPku dan kubaca kembali pesan cinta dari saudaraku di jalan Allah beberapa waktu lalu,

Ada yang mengeluh,
merasa jenuh,
ingin gugur,
dan jatuh.
Ia berkata, "LELAH...!"
Ada juga yang lelah,
tubuhnya penat,
tapi semangatnya kuat.
Ia berkata, "LILLAH...!"
karena Allah,
ikhlaslah...

Cess..! Embun syurga seakan berjatuhan dan membasahi jiwaku yang kerontang...
"Maka, berlelah-lelahlah sekarang, bersakit-sakitlah saat ini, karena kenikmatan yang abadi InsyaAllah kan kita rasakan di jannahNya nanti..."


NB: Alhamdulillah...lelahku seketika lenyap seiring selesainya tulisan ini. Terimakasih kepada Allah 'Azza wa Jalla yang senantiasa mengingatkan kedho'ifanku sebagai hamba. Allah, aku semakin cinta...Segala puji hanya bagiMu...

Kamis, 10 Desember 2009

NANTIKANKU DI BATAS WAKTU


Ehem…
dari judulnya, temen-temen pasti dah tau apa yang akan kita bahas di postingan kali ini. Ahay! Yes. Anda benar sodaraku. Yang jelas kita gak lagi ngebahas nasyidnya edcoustic yang judulnya sama persis dengan judul postingan saya di atas (maap kakak-kakak Edcoustic, saya tidak bermaksud njiplak atau memplagiat. Saya hanya berusaha menjadi fans-mu yang baik dengan mempromosikan judul nasyidmu ke seantero pelosok dunia maya. Itu saja). Postingan kali ini juga bukan bicarain pergantian status single seseorang… ehem, maaf, maksud saya jangan berpikiran yang baik-baik dululah, takut kecewa. Kenapa? Karena postingan kali ini sengaja dibikin rada provokasi dikit biar pada buka. Hihi…
Ehem…(dari tadi ehem ehem mulu). Iya nih, ada biji kedondong nyangkut di kerongkongan.. (maap, saya bohong)
Oke, tanpa banyak pemanasan, langsung saja kita tuju inti permasalahan
*serius mode ON*
Pernah denger lirik lagunya om thufail yang ini gak?
*Siap-siap ngerapp*
Bicara soal zionis dan dakwah atas nama gerakan reformis
Perhatikan kelakar para aktivis mulai prejudis, ironis, opportunis
Pakai bendera Palestina dimana-mana
Bicara Jihad Fi Sabilillah
Tapi disuruh nikah malah nawar ukhti dibatas waktu kuliah
Akhwat kok di order ( emangnya mikrolet )
Nggak usah ngomong jihadlah, jihad yang aduhai aja nggak berani
Gimana mau bicara jihad kayak di Palestina
Ya tapi akhirnya ada juga yang berani walimah
Tapi ya gitu lah ngaji pulang ngaji pulang habis walimah hilang
Bentar ya, saya mau ketawa dulu (hehehe….udah). Habisnya, lucu siih….
Lirik di atas adalah penggalan dari lagunya Bang Thufail yang “Democrazy”. Keren banget lah pokoknya! Jangan lupa beli albumnya ya! Atau donlot aja di MPnya bang Thufail (loh, ini niat mo promosiin lagunya edcoustic apa bang thufail sih?) Maaf, saya terbawa suasana. Oke, lanjut…
Perhatikan lirik di atas. Sengaja ada yang saya pertebal di situ. Yup! “nawar ukhti di batas waktu kuliah”. Mirip sekali dengan liriknya kak edcoustic yang “Nantikanku di batas waktu”. Kesamaannya terletak pada kata di batas waktu. Sekali lagi, DI BATAS WAKTU. Ada apa dengan di batas waktu? Ada yang menantiku sepertinya… (hehe…nggak ding, bercando)
Nah, sekarang kita akan ngebahas about: romantika nantikanku di batas waktu yang diperankan oleh mbak-mbak dan mas-mas yang udah kuliah (bukan ngegosip loh ya…). Hmm….Tema yang cucok banget buat anak muda kayak saya (saya muda looh….), buat pengalaman….*nyengir keledai*
Apa yang nyebabin kalimat itu (nantikanku di batas waktu) terlontar dari mbak-mbak dan mas-mas yang pengen menggenapkan separuh dien? Kemunkinannya cuma 1, BELUM SIAP! Nah, soal belum siap ini, macem-macem deh alesannya. Di antaranya,
1. Gak dibolehin ortu. “Mbok ya lulus duluu…” (berlaku buat mbak2 dan mas2)
2. Restu udah dapet, tapi maisyah belum punya. “Mau dikasih makan apa istriku?” (yang mas2nya)
3. Restu dan maisyah udah dapet, tapi susah bagi waktu antara Nikah, Kerja, Kuliah dan Amanah dakwah. “Ntar malah gak tawazun….” (buat mbak2 dan mas2)
4. Ada yang mo nambahin? (mungkin pengalaman pribadi)
Hemph…Mbak, Mas…saya turut prihatin. Mungkin salah satu alesan di atas bakal saya alamin suatu ketika…. *menerawang*
Dhoorrr!! Nggak boleh ngelamun!
Okeh, take it easy guys! Nggak papa. Jalani hidup ini apa adanya. Percaya deh, Alloh pasti punya rencana yang luar biasa…
Sebagai wujud keprihatinan saya, berikut akan saya sajikan tips memasak capcay (nggak nyambung? Lanjut…) TIPS JITU SAMBIL MENUNGGU DI BATAS WAKTU. Ahay! Siapkan dirimu….

1. Kerenkan dirimu dengan nambah ilmu
Buat persiapan menuju ke sana (pelaminan), tentunya kita kudu punya ilmunya dwong. Bisa baca2 buku pernikahan atau dateng ke dauroh munakahat. Kalo ini ternyata semakin membuatmu ngebet nikah (padahal lulusnya masih lama), mending baca2 buku matakuliah atau buku2 motivasi (bukan motivasi nikah loh), novel, artikel ilmiah, koran, majalah, apa aja deh….tapi hindari dulu yang berbau “merah jambu”, ntar malah semakin membuatmu menggebu-gebu. Kenapa? protes? enggak setuju? enggak mau? putus aja deh kalo gitu… (loh?)
2. Tetep jaga hijabmu
kalo mas ikhwan sudah mengetek (bahasa apaan nih?), kamsudnya ngincer mbak akhwat dan sudah diketahui oleh mbak akhwat, maka putuskan hubungan apapun dengannya. Ucapkan: “jangan ada –interaksi- di antara kita”. Cut cut cut !!! Tapi, cara ini bisa menimbulkan efek “penyakit hati” karena pikiran selalu tertuju padanya. So, waspadalah..waspadalah…tips berikutnya mungkin bisa lebih membantu Anda.

3. Sok sibuk
Banyak kan yang bisa dilakukan di kampus. Apalagi kalo mbak2 dan mas2 ini aktivis dakwah. Wiih, sibuk banget dah! Mulai dari ngurus LDK, ngisi mentoring, dateng ke kajian, jadi panitia acara kegiatan LDK (bukan panitia walimah loh ya, ntar malah tambah ngebet nikah. Hehe), atau… apapun lah! Yang penting sibuk! Bisa nulis buku, ngeMPi, nyari kerja buat biaya walimah, atau riwa-riwi ngukur jalan (siapa tau dapet rekor MURI). Asal, jangan sok sibuk seperti contoh kasus di bawah ini:
Anda: (sibuk)
Someone: Eeeeh…ngapain kamu angkat-angkat itu???
Anda: Enggak liat apa kalo saya sibuk? saya ini sibuk..sibuk..S-I-B-U-K! Busy! ngerti ndak sih?
Someone: TAPI ITU JEMURAN SAYA!
Anda: ……
Warga: (Gebugin Anda rame-rame)
Oke. S-I-B-U-K. Agar tak ada waktu untuk mikirin si dia yang belum menjadi siapa-siapa.

4. Shoum…shoum…shoum…
Nggak perlu dijelasin deh. Dah pada bisa puasa kok. Kan dah gede…

5. Perbanyak dzikir dan ibadah.
Dengan lebih mendekat padaNya, siapa tau Alloh memudahkan jalan kita menuju ke sana. Yang awalnya ortu nggak setuju, tiba-tiba memberi restu. Yang nggak punya maisyah, tiba-tiba dapet lowongan kerja. Yang nggak bisa bagi waktu, ternyata….ya bisa bagi waktulah. Kan udah ada ‘si dia’ yang siap membantu segalanya…(ciye ciyeeh..)

6. FOKUS!!
Nah, ini dia nieh. Kalo kendalanya itu lulus kuliah, ya segera diselesaikan atuuh kuliahnya. FOKUS ngerjain skripsi. Biar ndang mari, ndang lulus, ndang wisuda, ndang nikah..dan ndang ndang sing lainnya…(NB: ndang itu bahasa jawa yang artinya cepet atau segera)
Oke. Segitu dulu deh tips dari saya. Kalo kebanyakan tips ntar malah bikin pusing tujuh keliling. Semoga bermanfaat, dan semoga Alloh memudahkan niat baik kita untuk melaksanakan sunnah RosulNya…Kita? Maksudnya, mbak2 dan mas2 yang ingin menggenapkan separuh diennya (saya juga nantinya. Hehe). Agar kalimat “Nantikanku di batas waktu” tak lagi mengusik hati yang kian merindu…(tsaahh)
Wis, begitu mawon
Ngapunten jiddan nggih…
Salam pramuka! Eh, salam JIHAD!!
Allohu Akbar!!!
NB lagi: fotonya sengaja saya pilihkan yang itu buat ngomporin mba2 dan mas2nya. eheuy!
-akhwatzone-

Selasa, 27 Oktober 2009

Fasbiru..

BismiLLAAH assholatu wa sallam ‘ala rasuliLLAAH
Semoga Allah senantiasa melimpahkan barakahnya atas kita. Kita telah bertemu dan bersama di dunia ini, di atas jalan-NYA. Allah lah yang telah menuntun kita sampai di sini. Kita telah bersatu dan berjalan di atas niat mencari keridhaan-NYA. Allah lah yang patut dipuji atas semua karunia kebersamaan ini. Meski kita merasakan lika-liku keberasmaan ini juga tidak pernah sepi dari noda dan kekeliruan, namun kiata masing-masing perlu mengatakan “ innaLLAAHa ma'ana ”.
Al Ahzab 9-11:
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.”
Ayat di atas menceritakan keadaan sebuah peperangan Ahzab yang hendak dihadapi oleh kaum muslimin dengan kaum kafir. Allah menceritakan kepada kita, bahwa pada saat itu kaum kafir datang dari segala penjuru, dari atas dan dari bawah sedemikian banyaknya sehingga timbul rasa takut dalam diri sebagian kaum muslimin. Bahkan sedemikian hebatnya rasa takut itu sehingga Allah menggambarkan bahwa pada saat itu kaum muslimin hatinya seakan-akan naik menyesak sampai ke tenggorokan, dalam kelanjutan ayat itu disebutkan bahwa Allah hendak menguji keimanan kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin berprasangka yang baik kepada Allah dan tetap teguh keimanan mereka. Namun sebagian lainnya goyah dan berprasangka buruk terhadap Allah.
Sahabatku…..
Marilah kita tengok kedalam diri kita. Pernahkah kita mengalami kondisi yang sama? Pernahkah kita mengalami keadaan dalam hari-hari kita dimana kita dihadapkan kepada suatu permasalahan yang begitu besarnya (menurut kita) sehingga kita takut, gelisah dan berprasangka yang buruk kepada Allah? Pernahkah kita mengalami suatu permasalahan yang mana kita merasa bahwa kita ditinggalkan oleh-Nya?
Jika pernah, yakinlah sahabatku, bahwa kita sedang diuji oleh Allah. Allah menguji sejauh mana keimanan kita. Sejauh mana keyakinan kita kepada Allah yang Maha Pelindung. Sejauh mana kepasrahan kita sebagai hamba kepada Allah Sang Pencipta.
Sahabatku……
Yakinlah bahwa satu kesusahan diapit oleh dua kemudahan. Yakinlah bahwa sesudah kesusahan insyaAllah pasti ada kemudahan. Berprasangka baiklah kepada Allah, karena Dialah yang Maha Mengetahui seluk beluk diri hamba-hamba-Nya. Dan yakinlah bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang tidak akan pernah mendzhalimi hamba-hamba-Nya. Setiap ujian dan cobaan yang menghadapi diri kita dan kita ikhlas serta sabar menjalaninya maka Allah berjanji akan membalasnya dengan sesuatu yang teramat baik yang belum pernah kita menjumpainya atau bahkan belum pernah terbesit sedikitpun kebaikan itu dalam pikiran kita. Oleh karena itu sahabat, selamat menerima dan menjalani jamuan Allah yaitu cobaan dan ujian hidup……"